Mereka hanya perlu penerimaan…

Kira-kira seminggu ini saya mencoba mengamati salah satu kelompok yang digolongkan ke dalam kelompok minoritas, dan sepertinya cukup sering disinggung dalam tulisan-tulisan saya disini : kelompok LGBT. Setelah melewati banyak penolakan, terpaksa menelan kekecewaan karena saya berharap sekali bisa bertemu dan berbincang dengan mereka secara langsung, tetapi apa daya. Banyak yang menolak bertemu, karena tahu saya sedang penelitian. Mereka cenderung menutup diri, tidak ingin berbagi, tidak ingin orang lain tahu bahwa mereka ‘berbeda’…

Sebegitu dahsyatnya pengaruh stereotipe masyarakat terhadap kaum LGBT, hingga mereka mati-matian menyembunyikan identitasnya. Apalagi kemarin saya mendapatkan jarkom perihal penggerebekan “pesta gay” di bilangan Kelapa Gading pada grup Whatsapp keluarga, yang langsung banjir komentar dari istighfar sampai cemooh-cemoohan. Menurut saya berita ini tidak penting-penting amat sampai harus di blow up berkali-kali, digoreng terus menerus hingga posisi kelompok LGBT semakin tergerus. Tetapi yah, memang begitulah media arus utama. Keutamaan merekalah menjaga keberlangsungan nilai-nilai dominan yang ada, sehingga kelompok marjinal dilibas dengan pemberitaan-pemberitaan yang sesungguhnya tidak lebih penting daripada korupsi yang terus merajalela, atau ketidak adilan hukum terhadap kelompok minoritas yang tengah terjadi di masyarakat.

Bukannya saya membenarkan tindakan homoseksual dan sejenisnya, dan mendorong anda untuk melakukan hal serupa mengingat katanya saja perbandingan laki-laki dan perempuan sudah satu banding tiga. Bukan, bukan seperti itu. Hanya saja, stigma terhadap kelompok LGBT yang dibangun oleh hegemoni, dominasi kapitalisme sebagai pemilik media sudah terlalu menyudutkan kelompok LGBT, yang saya sendiri baru sadari belakangan ini. Bukan hanya kita yang ‘normal’ menuding mereka dengan stereotipe negatif, mereka pun mengetahui hal tersebut sehingga cenderung takut terhadap kita. Padahal, mereka hanya membutuhkan penerimaan, kebebasan yang sama seperti kita di masyarakat.

Sesungguhnya, kemunculan media baru seperti Internet merupakan jalan keluar bagi kelompok termarjinalkan, khususnya LGBT untuk bersuara. Ketika media arus utama tidak dapat mewadahi aspirasi mereka, malahan cenderung mendiskreditkan kelompok LGBT, media baru bisa dimanfaatkan sebagai alternatif. Media alternatif didefinisikan sebagai media non-komersial yang merepresentasikan kepentingan golongan di luar arus utama, salah satunya adalah golongan LGBT ini. Media alternatif sering pula didefinisikan anti-hegemoni, yaitu melawan berbagai nilai dan kepercayaan yang dominan dalam suatu budaya. Media alternatif seringkali berupa media non-profit, sehingga isinya jauh lebih gamblang dan jujur

Ada beberapa situs yang mewadahi kebutuhan dan aktivitas LGBT, salah satunya adalah situs http://aruspelangi.org/ . Situs ini mengorganisir kebutuhan-kebutuhan, berita yang bersangkut paut dengan LGBT serta pelatihan-pelatihan yang dikhususkan kepada kelompok LGBT agar dapat berdaya di masyarakat. Menurut Habermas, internet menyediakan ruang publik alterbatif untuk berdemokrasi, dimana setiap orang bisa mengemukakan pendapat masing-masing dengan bebas. Walaupun begitu, dalam forum kelompok minoritas yang terlalu besarpun selalu ada hegemoni, sehingga bukan tidak mungkin tetap saja ada suara yang terpinggirkan.

Saya cukup kesulitan menemukan narasumber yang ‘L’, dibanding yang ‘G’. Rupanya, kelompok ‘L’ jauh lebih tertutup dibanding ‘G’, dan saya menduga ini sebagai akibat label minoritas berlapis yang disandang kelompok tersebut membuatnya semakin menutup diri. Perempuan saja sudah cukup termarjinalkan, dan ditambah dengan LGBT tersebut. Ketika saya mencoba bermain-main di beberapa situs khusus LGBT, dan nampaknya lelaki jauh lebih vokal, sehingga public sphere tadi mesti dipersempit lagi menjadi spherical.

Penelitian terhadap kelompok minoritas beberapa diantaranya memang sulit dengan interaksi langsung, sebagai akibat dari penutupan diri tersebut. Namun, bukan berarti mereka selamanya melakukan self-denial terhadap diri mereka, atau bermain kucing-kucingan dengan lingkungannya. Bagaimanapun, mereka butuh aktualisasi diri dan bersosialisasi, sehingga mereka cenderung memanfaatkan media alternatif entah untuk mencari informasi saja atau menggunakannya hingga untuk mencurahkan isi hatinya. Seorang narasumber saya memiliki karakter yang kuat, yang saya saluti bahwa ia meskipun sadar dirinya berbeda, ia belajar menghargai dirinya sendiri sebagai seorang manusia. Meskipun cukup terbuka, nyatanya ia tetap harus memilih kepada siapa ia mencurahkan isi hatinya, sehingga portal blog menjadi alternatif baginya untuk menuang cerita. Dari platform-platform itulah kita bisa meneliti kehidupan mereka, mencoba memahami perasaan dan menerima keberadaan mereka sebagai bagian dari masyarakat.

 

Referensi :

Atton, Chris. 2002. Alternative Media. London : SAGE Publication.

Advertisements

Myth : What’s beyond the ‘text’? (Don’t take everything for granted!)

Bicara mengenai mitos, yang terbayang dalam benak kita pastilah cerita-cerita rakyat yang mengandung unsur-unsur keajaiban di dalamnya, dengan melibatkan tokoh-tokoh supranatural dan dipercayai terjadi sebagai bagian dari sejarah. Tidak, tidak. Mitos yang dimaksud dalam tulisan saya kali ini jauh lebih kompleks dari sekadar cerita. Bagi saya pribadi, konsep mitos nampaknya menjadi penerang atas segala pertarungan pikiran yang selama ini menghantui saya. Ini, adalah sebuah bentuk upaya dalam mencari dan memahami jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai alam semesta, asal usul, batas hitam dan putih, toleransi, empati, dan lain-lain.

Saya belakangan ini sering sekali debat kusir mengenai beberapa hal dengan beberapa orang. Baiklah, istilah debat kusir mungkin terdengar berlebihan, namun ‘pembicaraan’ ini memang tidak pernah ada ujungnya. Saya ingat salah satu teman saya, dalam beberapa kali ‘pembicaraan hangat’ itu mengatakan bahwa saya memahami sesuatu terlalu secara literal, padahal dunia ini lebih kompleks daripada itu. Saya pikir sekarang, mungkin itu ada benarnya. Apa yang saya perdebatkan — betapapun saya ngeri menuliskannya disini (tapi saya akan coba memberanikan diri), mengingat ini isu yang sensitif — adalah sesuatu yang berkaitan dengan agama. Ya, agama. Saya ingatkan, jangan maknai tulisan saya sebagai usaha saya membolak-balikan cara pikir teman-teman, ya. karena saya mah apa atuh 😦 Ini sekadar sharing pikiran saya, dan kebetulan bahan bacaan minggu ini rasanya sedikit berkaitan dengan apa yang sedang menjadi pergolakan dalam batin saya sendiri.

Buku ini berjudul “Mythologies”, ditulis oleh Roland Barthes, seorang filsuf asal Prancis yang diterbitkan tahun 1972. Mitos bukan lagi sesederhana narasi yang melibatkan tokoh imajinatif dan supranatural dengan mengangkat cerita populer dalam fenomena sosial dan alam saja, melainkan merupakan bentuk komunikasi yang sarat ideologi dan etos-etos. Everything can be a myth. Seluruh aspek berupa tulisan, tuturan, maupun tindakan merupakan tanda yang istilahnya melampaui bahasa. Tayangan WWF misalnya, bukan hanya sekadar gulat biasa, pertunjukan pertarungan dimana ada adu kekuatan antar pemain, melainkan sebuah setting drama yang bahkan melibatkan penonton sebagai aktornya. Film Harry Potter bukan hanya kisah anak penyihir biasa, melainkan kumpulan simbol-simbol imperialisme Inggris, lambang kesedihan hati dan kehilangan serta ambisi manusia yang bisa membawa kejayaan atau kehancuran. Mitos ini sudah merambat ke ranah teknologi, tidak lagi hanya mulut ke mulut dan berupa cerita-cerita, melainkan bisa saja hadir dalam bentuk film, buku, iklan, bahkan musik. Apa yang disampaikan, dalam ‘teks’ yang tergambar pada media-media tersebut mengandung simbol-simbol yang maknanya tidak lagi ditafsirkan secara denotatif, namun secara konotatif.

Ini mengingatkan saya terhadap sebuah postingan menggelitik dari seorang ibu di Facebook pasca menonton film animasi Totoro beberapa minggu lalu. Kira-kira postingannya seperti berikut.

hipwee-ghibli5.jpg
Sumber

Saya termasuk yang membicarakan ini dengan nada — yah, mengejek. Reputasi Studio Ghibli sudah santer dimana-mana, kok bisa-bisanya ibu ini mengatakan film ini, istilah tersiratnya, film kelas rendah? Tudingan ibu ini “kurang piknik” dan lain-lain melintas di benak saya — yang kini saya malu pernah merasa begitu, karena saya sendiri bahkan belum pernah menonton film itu. Dan ketika saya menontonnya, reaksi saya : ini yang katanya film bagus? :’)

Ketika akhirnya saya memahami, interpretasi itu terjadi karena saya dan mungkin si ibu yang merasa tertipu itu, menerjemahkan film Totoro ini secara denotatif. Kisahnya sederhana sekali, dua anak perempuan yang bertemu makhluk supranatural di desa tempat mereka baru pindah, yang mana Ibu mereka sakit dan harus dirawat bertahun-tahun di rumah sakit. Tidak ada adegan mengharukan, menyedihkan, atau apapun yang membawa emosi ke puncak tertinggi membuat film ini memang jika dilihat begitu saja terasa membosankan. Yang baru saya pahami adalah, alasan yang membawa film ini menjadi film yang luar biasa ketika saya mencoba melihat simbol-simbol yang ditunjukkan dalam film tersebut, bahwa film Totoro jauh lebih dalam maknanya dari sekedar yang saya deskripsikan sebelumnya. Ada aspek sejarah, budaya, maupun ekonomi di dalamnya– yang tidak bisa dipahami tanpa latar belakang pengetahuan yang sesuai. Maka menjadi lumrah, bukan, jika ada yang menikmati dan ada yang tidak?

Jika dikembalikan kepada konteks agama yang saya perdebatkan akhir-akhir ini akhirnya memunculkan pertanyaan dalam diri saya : apakah benar saya terlalu menerima semua secara literal? Karena jika dipikirkan lagi, ada banyak sekali tanda-tanda dalam kisah Adam dan Hawa, misalnya, yang maknanya bisa diinterpretasikan lebih dari sekadar kisah dua manusia pertama diusir dari surga oleh Tuhan karena memakan buah apel. Coba lihat lukisan di bawah ini :

P-1947-LF-77-tif-10575
Lucas Cranach the Elder : Adam and Eve (1526)

Mitos ini bersifat historis dan politis. Dari lukisan ini bisa ditafsirkan apa adanya, dimana Hawa yang memberikan buah apel terlarang kepada Adam. Namun, lukisan ini juga bisa menggambarkan stereotipe perempuan sebagai “penggoda”, sebagai biang kehancuran. Dan bahkan jika ditelaah lebih jauh, apel itu bisa pula hanya merupakan kiasan, bukan apel secara literal namun sebuah nilai yang dilarang oleh agama. Akan tetapi, mitos telah menjadi ilusi kolektif yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh manusia melalui berbagai medium, sehingga menjadi apa yang disebut oleh Marx “ideological apparatus“. Mitos diceritakan dengan gaya apa yang dipahami oleh si penutur, sehingga ini bukan merupakan refleksi dari dunia nyata melainkan representasi dunia nyata itu sendiri — mitos, betapapun dianggap bagian dari sejarah yang sifatnya alami dan objektif, sesungguhnya bukanlah sejarah sama sekali. Ada campur tangan pihak-pihak tertentu untuk membuatnya menjadi sebuah pagar ideologis.

Sehingga, timbul lagi pertanyaan dari diri saya. Jika kedua orang tua saya bukanlah penganut agama yang saya anut sekarang, akankah saya– dengan begitu yakin– menganut agama ini? Dan jika saya mencari jawabannya, saya tahu bahwa Tuhan telah menurunkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dalam bentuk mitos juga. Sesungguhnya, mitos mengenai larangan mempertanyakan agama, bahwa agama jangan dilogikakan dan sebagainya menghantui saya seakan saya jadi ‘auto-murtad’. Tetapi toh, bukankah banyak sekali kata-kata dalam kitab suci ‘bagi kaum yang berpikir’, yang menandakan sebuah ayatpun memiliki makna sangat dalam walau terdengar sederhana? Lantas, mungkinkah mitos-mitos tadi dibuat sebagai aparatus ideologi, menstereotipekan bentuk muslim yang baik secara fisik adalah– maaf sekali jika sangat sensitif– punya bekas hitam di dahi, berjubah dan bersorban putih bersih dengan janggut panjang, atau berkhimar bahkan berniqab, dan di luar itu adalah muslim yang kurang salih dan harus banyak belajar? Sehingga, apapun yang saya lihat, apapun yang saya dengar, apapun yang saya baca, saya memutuskan untuk tidak menerimanya secara apa adanya. Trying to seeking what’s the meaning beyond the ‘text’, bukan untuk menjauhkan saya dari Tuhan, melainkan justru membuat saya lebih yakin, lebih tenang dan lebih nyaman terhadap apa yang saya yakini.

Sekali lagi, don’t take everything for granted. Termasuk tulisan saya ini! 🙂

Referensi

Barthes, R. (1972). Mythologies: Roland Barthes. New York: Hill and Wang.

Review : On Media Memory – Introduction

Memori media merupakan sebuah kajian turunan dari penelitian media yang multidisiplin dan interdisiplin. Memori media berkonsep teoritis sekaligus analitis, dengan sifatnya yang kompleks. Kajian ini memiliki kegunaan diantaranya yaitu dapat mempelajari fungsi media sebagai memory agents, dimana kita dapat melihat pengemasan peristiwa masa lalu dalam berbagai versi media serta pembagian kerja media lokal, global, komersil dan non-komersil; dapat mengamati budaya yang terjadi, misalnya memori media sebagai indikator perubahan sosial dan politik; serta dapat melihat keterkaitan antara aktivitas sosial di media dan di dunia nyata. Dengan kata lain, dengan menghubungkan antara media dan memori kita dapat mengeksplor banyak hal dengan menggunakan temuan dan sudut pandang dari berbagai tempat, dan menyelidiki pengoperasian media melalui apa yang disebut memori kolektif.

Memori kolektif sendiri merupakan sebuah konsep yang elusif, sulit didefinisikan karena sifatnya yang secara teoritis masih sangat abstrak. Menurut Halbwachs (p.3), kelompok sosial mengonstruksi gambaran atau persepsi mereka sendiri mengenai dunia dengan membentuk atau mendaur ulang versi yang telah ada. Konsep memori keloktif adalah dimana setiap kelompok sosial tersebut membangun memori mengenai peristiwa masa lalu, dan memori tersebut menekankan pada keunikan peristiwa tersebut serta memberikan izin untuk mempertahankan gambaran itu dan kemudian diteruskan ke generasi selanjutnya.

Memori manusia pada dasarnya tidak pernah murni individual, namun sudah melalui proses kolektif/sosial. Dalam hal ini misalnya, secara sederhana saja adalah bagaimana kita menginterpretasikan sebuah simbol lingkaran merah dengan garis strip putih ditengahnya sebagai tanda ‘dilarang masuk’. Atau semakin sederhana lagi, bagaimana kita menyetujui sebuah konsep wadah penampung air berbentuk tabung tanpa tutup sebagai gelas. Semua itu adalah gambaran, yang mana bukan merupakan hasil interpretasi pribadi melainkan adalah pengetahuan yang diturunkan oleh orang atau kelompok yang telah memiliki memori tersebut sebelumnya, dan meneruskannya kepada kita saat memori kita masih putih bersih.

Pemaknaan simbol-simbol ini juga tidak dilakukan dengan sembarangan. Ada kepentingan-kepentingan kolektif yang diselipkan dalam proses pemaknaannya, sehingga makna simbol bahkan hingga persepsi peristiwa masa lalu dibentuk oleh kelompok sosial dengan tujuan tertentu yang sifatnya berguna secara sosial. Misalnya, untuk mempertahankan kedaulatan, mencegah pemberontakan, mewariskan nilai-nilai kehidupan, membuat perubahan sosial dan lain-lain. Memori ini merupakan serangkaian proses reka ulang — atau bisa juga disebut sebagai remake (pembuatan ulang) — dari peristiwa masa lalu untuk dijadikan dasar peristiwa masa kini, dan digunakan sebagai pijakan harapan masa depan yang lebih baik.

Memori kolektif merupakan sesuatu yang sifatnya kompleks. Dan untuk menyederhanakannya, berikut adalah 5 karakteristik dari memori kolektif tersebut :

1.Memori kolektif sebagai hasil bentukan sosial-politik

Memori didefinisikan dan dinegosisasikan melalui agenda dan kondisi perubahan kekuatan sosial politik. Memori tidak bisa digunakan sebagai evidence.  karena ia bukanlah rekaman asli sejarah, melainkan — seperti yang telah disebutkan di atas– sebuah reka ulang atas sejarah tersebut yang dipengaruhi oleh persepsi kelompok tertentu. Jika dipikirkan kembali, maka memori sejarah sesungguhnya merupakan sesuatu yang mungkin saja tidak benar sepenuhnya, atau ada bagian-bagian tertentu yang disembunyikan atas keinginan kelompok yang berkuasa atau berpengaruh besar terhadap persepsi khalayak, atau yang kita kenal sebagai pandangan dominan.

2.Pembentukan memori kolektif melalui serangkaian proses yang kontinyu dan multi dimensi

Memori dibentuk secara bersama-sama dengan berkaca pada baik masa lalu maupun masa kini, dan saling mempengaruhi persepsi terhadap kedua masa itu satu sama lain. Bagaimana kita memandang masa lalu merupakan pengaruh dari masa kini, dan bagaimana kita menjalani masa kini merupakan hasil dari pengaruh pandangan terhadap masa lalu itu sendiri. Pembentukan memori kolektif sifatnya tidak linier, melainkan dinamis dan kontingen. (Zelizer, dalam on Media Memory, 1995 : 221).

3.Memori kolektif bersifat fungsional

Memori kolektif dapat menjelaskan serta memetakan batas-batas yang membedakan sebuah kelompok melalui memori masa lalunya, dan menegaskan kembali keyakinan serta internal hierarchy kelompok tersebut. (Sturken, dalam on Media Memory, 1997 dan Zerubavel, dalam on Media Memory, 1995).

4.Memori kolektif harus dikonkretkan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa memori kolektif adalah konsep teoritis yang berbentuk abstrak. Sehingga, agar memori kolektif ini fungsional, maka diperlukan adanya tindakan mengubah konsep teoritis tersebut menjadi bentuk yang konkret dan dimaterialisasi melalui bentuk-bentuk fisik maupun artefak kebudayaan. Misalnya, upacara/ritual peringatan, monumen dan tugu, museum sejarah, sistem pendidikan, internet dan juga media.

5.Memori kolektif bersifat narasional.

Memori ini disusun seperti sebuah narasi, dilengkapi dengan apa yang bisa dipelajari serta diambil pesan moralnya untuk menciptakan generasi selanjutnya yang lebih baik.

Ketika media memiliki peranan yang cukup besar dalam membingkai sebuah peristiwa, maka itu artinya media juga punya peran penting dalam pembentukan persepsi masyarakat terhadap berbagai macam hal. Walaupun pesan dalam media dapat dinegosiasikan maknanya — dan memang benar bahwa efek media tidak pernah berdiri sendiri, namun fungsi media yang diyakini sebagai alat menggambarkan realitas memberikan masyarakat rasa kepercayaan yang tinggi terhadap apa yang disajikan oleh media. Tidak terlepas dari logika kapitalisme, bahwa mediapun bergerak dengan sistem hierarki dan mengutamakan keberlangsungan pengoperasiannya. Pandangan dominan yang digunakan dalam pembingkaian peristiwa, dalam hal ini tentu saja penguasa media sebagai kelompok dominan yang dimaksud, telah digunakan sebagai sudut pandang utama pembangunan memori masyarakat. Lagi-lagi, sudah bisa ditebak siapa yang terpinggirkan dalam hal ini, yaitu kelompok minoritas.

Tidaklah mengherankan apabila stigma negatif terhadap kelompok-kelompok minoritas telah melekat dalam memori kita semua. Stigma tersebut telah menjadi apa yang kita sebut di atas sebagai memori kolektif, yang bangkit dari pemahaman hasil penyetiran kelompok dominan melalui media. Masyarakat miskin misalnya, selalu digambarkan sebagai pihak yang lemah. Atau seperti yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya, penggambaran etnis Tionghoa dalam media yang sedemikian rupa terutama pada masa Orde Baru dan pasca 1998, memunculkan sikap anti-Cina.

Isu tersebut dengan mudah dibangkitkan kembali hanya dengan sentilan-sentilan kecil dalam pemberitaan di media dewasa ini, menunjukkan “luka lama” tidak pernah lenyap. Begitu lekatnya stigma yang terbentuk dalam memori kolektif, sehingga sedikit panas bisa menyalakan bara api yang kini nampaknya berkobar semakin besar dan merembet ke ranah lain. Oleh karenanya, masyarakat mestilah cukup cerdas untuk mengonsumsi media, internet, bahkan ucapan orang lain dan berhati-hati agar tidak saling merugikan satu sama lain.

Referensi :

On Media Memory, Introduction. Dalam On Media Memory : Collective Memory in a New Media Age. 2011.

Kemajuan TIK dalam Media dan Keragaman

Setelah dalam artikel sebelumnya kita telah membahas “cyber-religion”, dimana intisarinya adalah penggambaran penggunaan internet sebagai wadah aspirasi masyarakat minoritas, maka dalam artikel kali ini kita akan mencoba untuk membahas mengenai etnis-etnis tertentu khususnya kaum termarjinalkan dan posisinya dalam media. Bicara mengenai media, tentu di era sekarang telah mengalami banyak kemajuan. Media yang erat kaitannya dengan komunikasi, dengan begitu pesatnya teknologi yang bermunculan mau tidak mau turut memengaruhi cara berkomunikasi kita. Teknologi Informasi dan Komunikasi atau TIK, begitu kita menyebutnya. Dalam teknologi ini jelas, tidak terlepas dari apa yang telah kita bahas sebelumnya yaitu internet.

Dalam artikel milik Isabelle Rigani dan Eugenie Saitta, dikatakan bahwa ada setidaknya tiga isu utama berkaitan dengan permasalahan TIK, yaitu :

  1. Hubungan ras, isu migrasi dan mobilitas. TIK dipandang sebagai mobilisator para imigran untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan informasi negara asal mereka.
  2. Jurnalisme dan media. Representasi imigran yang ditunjukkan dalam media mainstream maupun media khusus terbitan negara “penampung” imigran tersebut serta bagaimana mereka menyikapi pandangan itu sendiri merupakan sebuah permasalahan yang sekiranya baik untuk dikaji.
  3. Gerakan sosial. Menjadi penting mengambil tindakan mewadahi aspirasi imigran di public space, dan TIK dipandang sebagai sebuah bentuk terobosan baru dalam partisipasi sosial, politik, ekonomi dan lain-lain.

Kemunculan TIK memang dipandang sebagai sesuatu yang sifatnya “meringkas” hidup manusia menjadi lebih mudah. Bayangkan, jika kita ingin berhubungan dengan orang lain nun jauh disana kini tidak perlu mahal-mahal membeli tiket pesawat atau menanti kedatangan pos surat selama berminggu-minggu. Internet membereskan semua masalah komunikasi kita! Kita jadi bisa mengakses informasi atau sekedar melakukan live chatting, tanpa terbatas jarak dan waktu. Semuanya secara real time, dan jarak ribuan kilometer terpangkas menjadi sebatas jarak mata dan layar. Walaupun begitu, jangan mengira bahwa TIK telah menggantikan cara komunikasi konvensional, setidaknya untuk saat ini. Karena bagaimanapun juga sulit untuk menghapus apa yang telah menjadi tradisi, dan TIK bertindak sebagai sebuah komplementer saja. Contoh nyatanya, tetap ada undang-undang yang mengatur pemakaian TIK tersebut menunjukkan bahwa ia tidak berdiri sendiri, dunia maya tetap berkesinambungan dengan dunia nyata.

Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan teknologi mestinya menciptakan masyarakat yang multikultural dan multi etnik, dikarenakan kemudahan dalam transaksi informasi. Bayangkan, pertukaran budaya sudah tidak perlu lagi dilakukan secara face to face. Contohnya Amerikanisasi yang tengah terjadi, disusul dengan Korean Wave. Ini, kan, merupakan bentuk dari invasi budaya luar melalui media sebagai kemajuan teknologi. Tetapi, media dengan fungsinya sebagai agen penyebar ideologi, walaupun secara ideal mestinya menyajikan informasi multi etnik dan menjaga keragaman yang harmonis rupanya bisa menjadi bumerang. Media dengan ideologinya kebanyakan — demi menjaga keberlangsungan hidupnya sendiri– cenderung mengambil “unsur-unsur” yang dimiliki kaum mayoritas dan menjadikannya sebagai budaya populer, dan malah menjadikannya sebagai standar ideal, yang dikhawatirkan dapat berujung pada penciptaan masyarakat yang homogen. Yang dikesampingkan dalam hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah kaum minoritas.

Untuk lebih jelasnya, mari kita coba tengok salah satu kaum minoritas di Indonesia, yang secara sejarah sebenarnya sudah mendiami bumi Indonesia ini sejak tahun 1700an, dan sampai sekarang masih mendapatkan perlakuan tidak adil bahkan tidak diakui sebagai warga Indonesia : etnis Tionghoa. Saya sendiri, jujur saja, sampai sekarang masih bingung mengapa kelompok etnis ini di Indonesia mengalami perlakuan yang cukup berbeda dan cenderung “di exclude”, bahkan secara ekstrim kemudian dibenci oleh sebagian dari kaum mayoritas yang menamakan diri mereka sebagai pribumi. Sehingga, timbullah pertanyaan apakah semua ini memang karena sikap, sifat, maupun tindak tanduk etnis Tionghoa yang tidak menyenangkan, atau segelintir orang yang memarakkan kebencian ini — yang mungkin saja tidak lepas dari peranan media?

Prasangka negatif media yang dilekatkan kepada etnis Tionghoa sebagai kelompok minoritas di Indonesia rasanya sudah jadi rahasia umum, dan begitu banyak stigma negatif yang akan tampak disana. Misalnya saja, ketika ada sebuah kasus kekerasan terhadap pembantu oleh majikan, dimana pembantunya merupakan “pribumi” dan majikannya “cina”, maka secara gamblang etnis mereka disebutkan dalam artikel pemberitaan. Hal ini senada dengan kasus-kasus negatif lain, namun tidak terjadi dalam artikel yang sifatnya positif, misalnya Susi Susanti sebagai juara bulu tangkis (ia cenderung disebut anak bangsa instead of warga keturunan atau perempuan beretnis Tionghoa). Ini menunjukkan keberpihakan media dan jurnalis terhadap kaum mayoritas dan cenderung memarginalkan kaum minoritas. Selebihnya bisa coba diklik disini ^_^.

Hal ini pula yang terjadi pada kelompok imigran diluar sana, misalnya di Amerika. Kelompok imigran sebagai minoritas mengalami hal yang serupa sehingga memunculkan minat baru pada media minoritas, atau yang dikenal sebagai ethnic media. Media ini menyasar kelompok minoritas dan bersifat mewadahi mereka, suara-suara yang tidak terdengar di public sphere. Kepopuleran ethnic media di kalangan kaum minoritas dipandang oleh media mainstream sebagai sebuah celah yang menurut mereka dapat mereka isi juga, sehingga media mainstream pun mulai memasukkan perwakilan etnis minoritas sebagai staf mereka, termasuk untuk mengatasi masalah penampakan kelompok minoritas di media dari sisi kuantitas dan kualitas — sesuai dengan ideal fungsi media yang mestinya netral dan mencakup seluruh kalangan baik dari sisi konten media maupun pihak yang terlibat dalam pengoperasian media. Pertanyaannya adalah, apakah dengan melakukan hal tersebut maka media mainstream sudah dapat dianggap mewakili suara minoritas? Apakah jurnalis dengan etnis minoritas akan betul-betul berpihak pada etnisnya sendiri dalam menulis sebuah berita, atau masih dibawah tekanan penguasa media mainstream itu sendiri, yang pada akhirnya tidak betul-betul mewakili kelompok minoritas?

 

Referensi

Larrazet, Christine, and Isabelle Rigoni. A CENTURY-LONG PERSPECTIVE ON AN ENLARGED AND INTERNATIONALIZED FIELD OF RESEARCH. InMedia, 2014.

Rigoni, Isabelle, and Eugenie Saitta eds. MEDIATING CULTURAL DIVERSITY IN A GLOBALISED PUBLIC SPACE. Basingstoke : Palgrave Macmillan, 2012.

 

Cyber Religion – On the Cutting Edge Between the Virtual and the Real (Review)

Cyber Religion, sebuah kata yang sesungguhnya pertama kali membacanya terdengar sangat asing bagi saya. Artikel tulisan Morten T. Hojsgaard ini sesungguhnya mengangkat sebuah fenomena yang agak sulit dipahami setidaknya bagi saya, karena kondisi fenomena yang dijabarkannya sedikit berbeda dengan yang terjadi di tanah air. Namun, pada review kali ini akan saya coba untuk membahas apa yang kira-kira ingin beliau sampaikan (karena itu mohon bantuan koreksi dan juga terbuka untuk diskusi ya, teman-teman! :D)

Dalam artikel Hojsgard, dikatakan menurut Brasher (2001:29) Cyber Religion mengacu kepada keberadaan organisasi keagamaan dan aktivitas keagamaan di dunia maya. Sedangkan menurut Dawson (2000:29), Cyber Religion merupakan organisasi keagamaan yang hanya eksis di dunia maya. Di kalimat yang lain, menurut Karaflogka (2002:284-285), Cyber Religion dipisahkan berdasarkan termnya: Religion on cyberspace dan Religion in cyberspace. Religion on cyberspace merupakan informasi yang diunggah oleh sebagian besar agama, rumah peribadatan, baik secara pribadi maupun organisasi yang dapat dirasakan juga di dunia nyata, sehingga internet digunakan sebagai penyaji informasi keagamaan. Sedangkan Religion in cyberspace merupakan agama yang terbentuk dan hanya eksis di dunia maya serta disadari sebagai terhadap realitas virtual, sehingga internet sebagai pembentuk atau alat kreatif dalam menciptakan sebuah konten dan aktifitas keagamaan.

Agama dalam cyberspace mungkin memiliki esensi atau eksistensi pada kehidupan manusia, dimana hal ini bertentangan dengan kajian sekuler yang mengungkapkan bahwa agama adalah konstruksi bentukan pikiran, tindakan dan organisasi manusia (Arnal, 2000:22). Sehingga, agama hadir dan termediasi di dunia maya justru karena adanya tindakan terlebih dahulu oleh manusia, termasuk diantaranya membuat interaksi komunikasi, program dan situs, dan sebagainya.

Menurut Hojsgaard ada 3 parameter yang dapat digunakan untuk menilai sejauh mana sebuah agama dapat dikarakterisasikan sebagai cyber religious, yaitu dari sisi Mediation, Content dan Organization.

Dari sisi mediation, prototipikal dari cyber religion sendiri berpangkal pada komunikasi virtual yang kemudian meluas menjadi komunikasi fisik. Sedangkan secara konten, cyber religion melakukan upaya yang berkesinambungan dalam menyajikan informasi alternatif dari dasar pemikiran organisasi keagamaan dan tradisi keagamaan, mengacu kepada ciri utama budaya cyber postmodern. Hal ini sedikit berbeda dengan agama tradisional yang justru cenderung skeptik terhadap apa yang mereka pandang sebagai pop-oriented, postmodern dan sekuler. Terakhir, dari sisi organization, cyber religion cenderung hanya sedikit terorganisir karena design mereka lebih fokus terhadap transmisi serta pengujian pemikiran dan gagasan dibandingkan mengeksplorasi institusi sakral, hierarki atau sakramen.

Di akhir tulisan, Hojsgaard mencoba mengambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Bukan internet yang membentuk agama-agama ini, melainkan manusia yang memanfaatkan internet tersebut. Namun, manusia-manusia inipun tidak terlepas dari pengaruh kemajuan teknologi yang merasuk pada kehidupan sosial, politik dan budaya mereka, sehingga cara kerja komunikasi dan kondisi yang terjadi di dunia maya secara tidak langsung turut memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pembentukan cyber religion.
  2. Prototipikal dari cyber religion dimediasi atau bertempat di dunia maya saja, dengan konten yang mengacu pada ciri utama budaya cyber postmodern, serta hanya sedikit terorganisir.
  3. Meskipun terdapat perbedaan dengan agama tradisional, namun ada kesamaan diantara keduanya yaitu pengikutnya yang sama-sama memunculkan pertanyaan mengenai kebenaran atau informasi ontologis dan metafisik yang setipe.
  4. Cyber religious dikarakterisasikan sebagai sebuah role playing, konstruksi identitas, kemampuan adaptasi budaya, pesona teknologi dan sebuah pendekatan sarkastik terhadap religiositas konformis. Cyber religious meningkatkan virtualisasi agama dan budaya, mengintesifikasikan interaksi pendekatan secara keilmuan, seni dan keagamaan, serta memperjuangkan antara sekuler dan anti sekuler.

Berkenaan dengan kondisi yang ada di Indonesia, dikarenakan di Indonesia sendiri hanya mengakui lima agama, secara tidak langsung agama yang ada diluar itu akan dianggap agama sesat dan akan ditindak lanjuti atau di banned (walaupun ada agama-agama tertentu diluar lima agama tersebut yang masih diakui, seperti konghucu misalnya). Hal ini menyebabkan persebaran cyber religion yang sifatnya benar-benar baru atau berbeda dengan ajaran utama di Indonesia rasanya tidak begitu banyak. Orang-orang akan lebih memanfaatkan situs-situs atau jejaring sosial untuk bertukar informasi perihal keagamaan. Walaupun begitu, beberapa situs keagamaan dan juga akun keagamaan di sejumlah jejaring sosial dewasa ini banyak yang mulai mengusung radikalisme, yang sesungguhnya dasarnya tetap pada koridor yang sama dengan agama tradisional, namun sifatnya radikal. Dan dalam hal ini, akun-akun dan situs agama mayoritas akan lebih banyak bermunculan di dunia maya dibanding yang lain, dan lebih berpotensi memiliki keragaman konten. Perlu diwaspadai pula informasi yang disajikan, karena di dunia maya kebenaran informasi menjadi sangat kabur, sehingga perlu kebijakan yang tinggi dari para pengguna untuk mengakses informasi, agar tidak selalu dari satu sumber untuk menghindari pemahaman yang salah.

 

Sumber :

Hojsgaard, Morten T. 2005. Cyber Religion : On the Cutting Edge Between the Virtual and the Real.

Women’s Body Perfection : Natural Beauty

Seperti yang telah kita ketahui, media punya peranan penting dalam mengonstruksikan situasi ideal terhadap sesuatu, termasuk gambaran tubuh sempurna laki-laki dan perempuan. Standar kecantikan perempuan sendiri telah berubah dari masa ke masa, misalnya di zaman tertentu perempuan berisi dianggap paling cantik, dan di zaman yang lain justru menjadi sangat kontras dimana perempuan yang sangat kuruslah yang dianggap paling cantik. Hal ini menunjukkan bahwa kecantikan bukan sebuah ukuran yang absolut, karena senantiasa berubah mengikuti “tren” yang diciptakan oleh media.

Kemunculan media sosial, oleh Kendyl Klein dalam tulisannya yang berjudul Why Don’t I Look Like Her? The Impact of Social Media on Female Body Image dipandang sebagai salah satu alasan penyebab terjadinya ketidak puasan terhadap bentuk tubuh diri sendiri di kalangan perempuan khususnya mahasiswi. Hal ini disebabkan karena media sosial telah memberikan para perempuan keleluasaan untuk mengakses foto-foto kerabat, sahabat, bahkan selebriti seluruh dunia melalui cara yang paling mudah. Berkembang dan meluasnya sosial media menyebabkan kemudahan pula bagi setiap perempuan untuk membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain (p.85).

Sesungguhnya memang tidak hanya sosial media saja, karena jauh sebelum sosial media muncul ketidak puasan akan tubuh diri sendiri dan membandingkannya dengan orang lain sudah dialami oleh perempuan, khususnya berdasarkan stereotipe yang ditampilkan dalam industri periklanan hingga interaksi interpersonal dengan orang sekitar. Namun, semakin kesini entah mengapa “ukuran” model di periklanan dan di runway secara ekstrem semakin mengecil, dan menimbulkan fenomena anoreksia hingga bullimia di kalangan remaja. Tips-tips diet mulai menjamur, dimulai dari diet karbo, diet mayo dan entah diet apalagi, secara aktif dipublikasikan di sosial media dan diterapkan oleh para perempuan demi mendapatkan bentuk badan yang diidamkannya.

Sosial media menurut Klein (p.86) digambarkan punya efek yang sama bahkan lebih kuat dibandingkan dengan sistem periklanan yang tradisional. Mengapa demikian? Hal tersebut disebabkan karena pengiklan di sosial media adalah kerabat, sahabat, dan kolega kita sendiri yang kita kenal secara pribadi sehingga terasa lebih riil dan terpercaya. Mungkin, logika inilah yang dimanfaatkan oleh para pengiklan di sosial media khususnya di Instagram dengan sistem endorsement.

Sejalan dengan teori Uses and Gratification, sosial media memiliki impact yang negatif terhadap perempuan yang sejak awal sudah rentan terhadap isu body image mereka, dan lebih mudah terpapar secara negatif pesan-pesan yang secara implisit dikemukakan dalam sosial media. Mereka akan merasa tidak puas dengan bentuk tubuh mereka dan melakukan beragam macam usaha untuk mengubahnya, dimulai dari diet hingga operasi plastik sebagai jalan pintas. Sulam alis, sulam bibir dan lip filler menjadi sesuatu yang biasa dikalangan remaja perempuan. Menjamurnya aplikasi editing di handphone kita semua pun menunjukkan bahwa kecantikan bisa dimanipulasi, dan yang alami tidak selalu sempurna.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Klein adalah selain mencoba tidak terlalu sering menggunakan sosial media (karena Klein sendiri dikatakan pernah mengalami hal yang sama sebelumnya dan semua berhenti setelah ia memutuskan meninggalkan sosial media), adalah bahwa para perempuan harus berani angkat suara dalam mengampanyekan kecantikan yang natural, apa adanya. Mencegah dirinya dan teman-temannya berinteraksi sekaligus menyebarkan pesan yang bersifat negatif, terutama berkenaan dengan isu bentuk tubuh ideal.

Namun, sebuah sisi yang sepertinya oleh Klein tidak dikemukakan disini, dan menurut saya merupakan sesuatu yang sama berpengaruhnya dengan sosial media adalah literasi mengenai natural beauty kepada lingkungan, kesemuanya tanpa terkecuali, baik laki-laki maupun perempuan. Mungkin, terutama laki-laki. Karena, laki-laki merupakan salah satu alasan bagi seorang perempuan untuk berubah. Jika seorang perempuan meninggalkan aktivitasnya di sosial media, namun dari pihak laki-laki masih aktif mengonsumsi media yang menampilkan selebriti dengan tubuh menawan, bukan tidak mungkin ia akan memaksa baik secara langsung maupun tersirat kepada perempuan untuk berpenampilan serupa.

 

Referensi :

Klein, Kendyl M. (2013). “Why Don’t I Look Like Her? The Impact of Social Media on Female Body Image”. CMC Senior Theses.

Gender dan Konstruksi Media

Sex dan gender. Dua buah term yang nampaknya sama, namun berbeda. Apa sih yang berbeda? Bukankah dua-duanya digunakan untuk memisahkan, mengidentifikasikan laki-laki dan perempuan?

Sex, atau dalam bahasa Indonesia biasa kita sebut dengan jenis kelamin, mengidentifikasikan identitas “laki-laki” dan “perempuan” berdasarkan anatomi tubuh. Mereka yang (maaf) memiliki penis, menghasilkan sperma, tidak berpayudara, bertubuh muscular, memiliki kromosom Y, punya hormon testosteron, berkumis dan berjanggut dikategorikan sebagai laki-laki. Sedangkan mereka yang memiliki vagina, memiliki indung telur, berpayudara, bertubuh lekuk lembut, berkromosom X dan tidak memiliki kromosom Y, memiliki hormon estrogen dan mengalami haid dikategorikan sebagai perempuan. 

Sedangkan gender adalah tindakan yang secara sosial membentuk peran, perasaan dan kebiasaan yang dipantaskan untuk laki-laki dan perempuan. Secara implisit, artinya gender adalah definisi masyarakat mengenai tingkah laku laki-laki dan perempuan yang diekspektasikan .Gender Normative adalah kebiasaan yang konsisten dengan ekspektasi masyarakat. Gender non-conformity adalah kebiasaan yang menyimpang dari yang semestinya. Gender identity adalah bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan mengidentifikasikan gender mereka. Yang dimaksud dengan gender ini adalah diantaranya maskulin dan feminin, yang sesungguhnya dirumuskan dengan pola maskulin untuk laki-laki dan feminin untuk perempuan, namun bukan perumusan yang sifatnya absolut. Dengan kata lain, maskulin dan feminin bisa saja dimiliki oleh jenis kelamin yang berbeda, bahkan satu jenis kelamin bisa saja memiliki keduanya.

Pandangan masyarakat mengatakan bahwa ada hubungan alamiah antara sex dan gender. Hal ini terbukti bahkan dari ketika manusia baru lahir. “it’s a boy!” dan “it’s a girl!” akan membedakan warna kelambu atau bedong mereka. Kemudian, misalnya, bayi perempuan diharapkan akan tumbuh sebagai wanita, memiliki sifat feminin dan mengonsumsi barang-barang yang sifatnya girlie, seperti make up, tas tangan, sepatu stilleto, rok, dan lain-lain. Hal sebaliknya akan terjadi pada laki-laki juga. Tidak ada (yang dianggap) masyarakat normal yang mengharapkan bayi laki-laki kelak ketika dewasa akan mengatakan “Mama aku ingin menikahi pria ini!” sembari berpenampilan feminin dengan blouse dan rok, sepatu stilleto merah dan gincu yang mencolok.

Tetapi, benarkah gender itu sifatnya natural? Jawaban Judith Butler adalah tidak. Menurutnya, gender adalah penyesuaian berulang terhadap tubuh manusia, seperangkat tindakan yang berulang yang diatur ketat oleh hukum atau norma dari waktu ke waktu untuk menciptakan sebuah substansi. Artinya, dengan adanya penyesuaian berulang-ulang dari waktu ke waktu bahkan diatur ketat oleh hukum atau norma, maka gender merupakan sebuah hal yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Gender, menurut Judith Butler, adalah tindakan performatif. Manusia mengonstruksikan gendernya sembari berperilaku sesuai dengan “script” arahan masyarakat. Tetapi, secara realitas gender tersebut hanya terjadi manakala manusia sedang berperilaku seperti itu. Dan ketika manusia menolak memainkan peran dalam skrip itu maka akan terjadi penolakan sosial.

Konstruksi gender tentu tidak terjadi begitu saja, selalu ada sejarah yang melatar belakanginya. Dalam buku Butler yang berjudul Gender Trouble, dalam chapter 2  : Prohibition, Psychoanalysis and the Production of the Heterosexual Matrix dijelaskan mengenai hal tersebut.

Hal pertama yang diangkat oleh Butler adalah penjelasan antropologikal strukturalis dari Claude Levi Strauss, yang menerangkan perihal regulasi pertukaran  dimana ini mengkarakterisasikan seluruh sistem kekerabatan. Perempuan, diobjektifikasi sebagai alat tukar dalam sistem kelompok patrilineal melalui pernikahan demi perluasan kekuasaan. Kemunculan pentabuan perkawinan sedarah atau incest memunculkan dan sekaligus mengukuhkan kepantasan pertukaran perempuan untuk tindakan eksogami atau perkawinan antar suku. Sistem kekerabatan ini menolak endogami atau perkawinan internal suku, yang dipandang sebagai sebuah kesalahan dan terlarang serta pantas untuk dihukum. Kemudian, adanya pengasosiasian simbolis mengenai laki-laki dan perempuan, seperti misalnya pedang untuk merepresentasikan laki-laki dan cawan untuk perempuan. Pemberian simbol ini sudah menunjukkan posisi dari laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki dikonstruksikan memiliki power dan perempuan sebagai penadah power tersebut.

Dengan adanya simbol tersebut kemudian menekankan kodrat manusia sebagai makhluk yang heteroseksual, karena keduanya saling melengkapi. Jika dalam buku Butler ini, pendapat Jacque Lacan dikutip sebagai berikut : “to ‘be’ the Phallus is to be the ‘signifier’ of the desire of the other and to appear as this signifier.” (p.44). Laki-laki disimbolkan dengan Phallus, dan laki-laki dapat menjadi laki-laki dengan keberadaan perempuan, sebagai makhluk yang mewadahi power Phallus tersebut. Perempuanlah yang memvalidasi dan mengonfirmasi kelelakian para pria. Tanpa perempuan, laki-laki tidaklah utuh.

Jika dikaitkan dengan pengertian gender di atas, maka akan ada permasalahan untuk golongan homoseksual. Kaum homoseksual akan secara terpaksa mengikuti permainan masyarakat untuk menjaga penampilan mereka layaknya kaum heteroseksual, sebagai bentuk defense mereka karena homoseks dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Hal sama akan terjadi apabila perempuan ingin untuk tampil secara maskulin, mencoba mengadaptasi powerfullness dari laki-laki dan ingin mengadopsi simbol Phallus untuk dirinya sendiri.

Media merupakan sesuatu yang penting perannya dalam mengonstruksikan gender. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mengambil satu jenis media yang aktif mengonstruksikan gender yaitu majalah. Majalah pria dan wanita memiliki karakteristik serta konten yang berbeda. Majalah laki-laki kontennya lebih banyak berkisar pada otomotif, karir, dan seksualitas dengan penggambaran perempuan-perempuan seksi. Selain itu, majalah laki-laki juga didominasi dengan gambar laki-laki sixpack serta tips work out untuk membentuk tubuh yang kuat dengan warna-warna yang kelam dan gelap menunjukkan sisi maskulin itu sendiri. Laki-laki diasosiasikan kepada hal-hal yang berbau intelektual, erat kaitannya dengan teknologi, serta bentuk tubuh yang kuat dan memiliki gairah seksualitas dengan mengobjektifikasi perempuan. Sedangkan, majalah wanita umumnya berkisar seputar fashion, tips diet, make up, cerita pendek yang menggugah, tips mengenai hubungan rumah tangga, resep masakan dan sejenisnya semakin menunjukkan posisi perempuan pada ranah domestik dan mengotakkan preferensi perempuan terhadap komoditas yang feminin. Kedua jenis majalah ini menunjukkan kepantasan kedua jenis kelamin tersebut dalam berperilaku dan memilih preferensi mereka, dan sejak awal telah memisahkan laki-laki dan perempuan berdasarkan konsumsi media serta mengonstruksi gender yang harus mereka perankan.

Permasalahannya adalah, media tidak memberikan ruang kepada kelompok yang terkategorikan dalam gender non-conformity, dan menimbulkan kebingungan terhadap media mana yang mereka konsumsi. Karena, di satu sisi mereka memiliki preferensi berbeda namun secara bersamaan mereka memiliki kebutuhan untuk menjaga dirinya sesuai kodrat sebagai bentuk defensif. Hal ini dikarenakan media berusaha menormalisasikan masyarakat.

 

Referensi:

Butler, J. (2007). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. Routledge.

Buttler, J. (1988). Performative Acts and Gender Constitution (essay).

https://sophmoet.wordpress.com/2014/01/29/gender-trouble-prohibition-psychoanalysis-and-the-production-of-the-heterosexual-matrix/