Review : MEDIA by Arjen Mulder

on20the20mediaGambar dipinjam dari sini

 

Media merupakan perantara untuk mencapai yang lain. Artinya, segala hal di dunia ini yang sifatnya menghubungkan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain sederhananya dapat disebut sebagai media. Misalnya, udara merupakan media dalam penyampaian suara, karena udara membantu suara merambat sehingga getaran suara yang keluar melalui pita suara dapat mencapai telinga orang lain. Bahkan seluruh objek di alam semesta ini saling berkomunikasi melalui media gravitasi, cahaya maupun radiasi. Termasuk pula bahasa, gemerisik daun, lolongan anjing dan lain-lain yang dipersepsikan menjadi sebuah pesan dalam sistem kognisi manusia.

Bagi Marshall McLuhan (1964), media adalah sebagai perpanjangan dari indera kita ke ranah publik. Indera di sini bukanlah hanya penciuman, penglihatan dan sebagainya, karena pada dasarnya tubuh kita sendiri memiliki banyak sekali ‘rasa’ di dalamnya, seperti kadar gula darah, hormon, tingkat keasaman dan lain-lain yang membantu menciptakan keseimbangan tubuh dan memacu agar sel-sel dalam tubuh aktif bergerak. Media dapat juga berupa teknologi maupun perpanjangan tubuh lainnya yang sifatnya artifisial.

Di era modern, dalam bidang seni khususnya seni lukis mengalami beberapa perkembangan. Sebelumnya teknik lukis menekankan pada goresan-goresan yang membentuk sebuah gambar dengan objek yang jelas atau dikenal dengan aliran realisme, di awal 1860an Monet mencoba menampilkan gaya baru dalam melukis dengan menekankan pada warna-warna yang menampilkan ilusi cahaya dengan pilihan gradasi warna terang — yang kemudian dikenal dengan aliran impresionisme. Hingga pada awal abad 20, sang maestro Pablo Picasso memperkenalkan aliran kubisme, dimana sebuah gambar utuh seakan terbuat dari potongan-potongan asimetris membentuk sebuah lukisan bercorak abstrak. McLuhan kemudian mendapatkan gagasan setelah mempelajari aliran lukisan ini, dan menyatakan bahwa : MEDIA ADALAH PESAN. McLuhan mendapatkan esensi teori media miliknya melalui seni modern, dimana media sangat berperan penting dalam pembentukan persepsi pada alam bawah sadar manusia.

Ada efek-efek tertentu di luar media (ekstramedia) yang dirasakan, yang muncul manakala sebuah pesan dikirimkan melalui media tertentu. Efek ini tentu tidak direpresentasikan oleh media itu sendiri sebenarnya, karena jika seperti itu maka ini termasuk dalam bagian intermedia itu sendiri. Akan tetapi, efek-efek ini akan terasa justru melalui media tersebut, dan efek yang muncul akan berbeda pada tiap media dan tiap individu. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman mendengarkan sebuah lagu atau melihat sebuah lukisan. Kita tidak lagi hanya sekedar melihat dan mendengar, namun akan ada titik dimana kata-kata yang disampaikan dalam lirik lagu ataupun objek gambar yang terlukis dalam sebuah lukisan tidak lagi berarti : dengan mengagumi hasil karya tersebut dan kita merasakan alangkah bersyukurnya kita dapat hidup. Hubungan antara manusia dengan teknologi media sifatnya simbiosis. Manusia menciptakan teknologi, dan teknologi menciptakan manusia dari sisi kognisi, afeksi dan tindakan sehingga hal ini menciptakan sebuah ekologi media.

Dari sisi teknologi, tentunya media itu sendiri mengalami perkembangan. Dimulai dari era pers hingga munculnya radio kemudian televisi dan kini internet, media mengalami puncak kekuatannya sejak awal 1980an. Ketika masa itu, kamera televisi mulai dibawa masuk ke dalam gedung parlemen sehingga mengakibatkan perubahan sikap para menteri tersebut menjadi sopan dan beradab. Di sisi lain, konten-konten yang disajikan dalam media juga mulai mengalami perubahan dengan penyesuaian antara kriteria topik dan hiburan. Hingga pada akhirnya, media baru muncul sebagai bentuk dari hibridisasi media-media yang sebelumnya telah ada. Jadi, meskipun dikatakan sebagai media baru, yang ada di dalamnya hanyalah merupakan software yang terbentuk dari remediasi media-media yang muncul sebelumnya dalam bentuk yang lebih praktis dan bersifat mudah dibawa dan digunakan di manapun.

Pada akhirnya, seluruh elemen kehidupan ini, apapun yang ada di dunia ini dapat menjadi media untuk mencapai suatu tujuan tertentu bagi siapapun tanpa terkecuali. Proses penginterpretasian makna dari pesan itu sendiri terjadi dalam kognisi penerima pesan, sehingga menjadi penting pula bagaimana proses pertukaran kognisi antara penuang pesan dalam media dengan penerima pesan melalui media tersebut, disamping bagaimana sebuah media dapat mempengaruhi pemaknaan suatu pesan. Walaupun begitu, benar adanya bahwa sebuah media turut memberikan andil dalam memberikan pemaknaan bahkan efek tertentu baik secara sosial, ekonomi maupun politik apabila sebuah pesan disampaikan dalam media yang tepat. Dalam kaitannya dengan kelompok yang termarginalkan, sebagai entitas yang suaranya kerap terpinggirkan, menjadi penting untuk mempelajari dan menggunakan media-media yang cocok bagi mereka untuk menyuarakan pendapat, membuktikan eksistensi diri bahkan mengangkat derajat dirinya di masyarakat.

 

Referensi :

Murden, Aljer. 2006. Article : Theory Culture Society. London : SAGE. (23,289).

 

Advertisements

7 thoughts on “Review : MEDIA by Arjen Mulder”

  1. Ada poin yang menarik ketika kita mengutip pengertian media dari review tersebut, yakni media sejatinya dipahami sebagai segala hal di dunia ini yang sifatnya menghubungkan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Poin menariknya bahwa media tidak bisa diartikan sempit hanya sebagai media cetak, media elektronik maupun online saja, namun bisa saja apapun itu yang ada di dunia ini yang mana digunakan sebagai perantara bagi siapapun tanpa terkecuali, untuk mencapai tujuan tertentu. Salah satu contohnya seperti yang telah disebut dalam artikel di atas, yaitu bisa berupa ‘udara’.
    Sementara itu, menurut Penulis, media bila dikaitkan dengan isu-isu minoritas, bisa digunakan oleh kelompok-kelompok minoritas ini sebagai sarana publikasi mereka, agar upaya memperjuangkan eksistensi/keberadaan mereka, bisa didengar dan akhirnya bisa diakui oleh budaya mayoritas.
    (#041, #SIK041)

    Like

  2. Ada kalimat dari MC Luhan yang kemudian menjadi menarik bagi saya dimana MEDIA MERUPAKAN PESANsetelah melihat dan mengamati lukisan. secara sederhana yang saya pahami dalam komunikasi, media dan pesan merupakan dua unsur komunikasi yang berbeda. Bahkan ketika unsur komunikasi dijelaskan media memiliki peran tersendiri dibanding dengan pesan.

    Like

    1. Sepertinya yang dimaksud olehmu itu adalah the information theory dari shannon yaa, yang titik fokusnya ada di message. Memang ada beberapa pandangan, kalau McLuhan mengusung the media theory yang fokusnya pada media 😁

      Like

  3. Kriteria yang amat luas tentang media ini mengingatkan sebuah prinsip komunikasi bahwa we cannot not communicate. Bahwa meskipun kita hanya berdiam, mesti diam itu pun juga menyimpan pesan dan maksud tertentu. Sekalipun mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa kita tengah mengirimkan pesan melalui media tubuh kita. Nah tapi ken,apakah media ini selalu berbentuk benda yang wujud? Seperti udara,anggota tubuh,atau media massa yang tampak atau terasa wujudnya. Terfikir aja sih,dalam pembicaraan tentang media,apa para ahli juga ada yang membahas media telepati yang berdasar naluri atau insting? Misal nih ya,ada anak yang tiba2 pulang,karena merasa melihat bayangan ibunya menyuruh dia pulang. Ternyata benarlah si ibu tengah merindukan anaknya. Kira-kira ada ga ya penjelasan teoritis ilmiah dari sudut pandang kajian media mengenai hal tersebut?hihi. Random ya. Just thought sih ken..nice post anyway :*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s