Rasisme dalam Media

Media adalah sebuah institusi yang mampu menggiring opini masyarakat, termasuk menciptakan ideologi-ideologi. Ideologi ini sendiri digambarkan oleh Stuart Hall dalam artikelnya yang berjudul The Whites of Their Eyes : Racist Ideologies and the Media sebagai asosiasi dari rangkaian makna yang dipisahkan oleh artikulasi konsep-konsep tertentu. Misalnya, ‘kebebasan’ dimaknai berbeda jika dilihat dari ideologi yang berbeda (seperti individualisme jika dipandang dalam ideologi liberal, atau kesetaraan jika dipandang dalam ideologi sosialis). Ideologi disebutkan oleh Hall tercipta dari alam bawah sadar serta menciptakan kesadaran sosial. Ideologi dapat digunakan untuk mendefinisikan serta membedakan posisi seseorang, di dalam kubu manakah ia berada.

Sekarang, kembali kepada media. Menurut Hall, media yang mampu menciptakan ideologi-ideologi ini juga mampu mendefinisikan ras-ras dan permasalahannya, sekaligus mengklasifikasikan ras tersebut ke dalam kategori-kategori dan menstereotipekannya. Dua jenis rasisme oleh media yang ia kemukakan adalah overt racism dan inferential racism, dimana inferential racism lebih ‘berbahaya’ dibandingkan overt racism. Overt racism berarti rasisme terbuka, yaitu media secara terang-terangan mengeluarkan pandangan dan politik rasis. Sedangkan infential racism adalah rasisme yang terselubung melalui penyajian fakta maupun non-fakta yang sifatnya nampak natural dan tidak terkesan rasis.

Penstereotipean ras ini terjadi dalam media, dapat dilihat dari penggambaran orang hitam sebagai wujud budak yang setia namun terkadang juga penjahat yang tidak bisa dipercaya dan berbahaya. Atau, penggambaran suku-suku primitif yang berwibawa namun juga terkadang digambarkan sebagai sosok yang buas. Beberapa film yang ditengarai merupakan film paling rasis sepanjang masa bisa dilihat dari tautan berikut ya –> klik disini 🙂

Untuk memahami artikel Hall ini, rasanya perlu untuk flash back perihal teori penerimaan pesan miliknya. Dalam teorinya, bagaimana interpretasi audiens sebagai penerima pesan merupakan hal yang penting, karena pemaknaan bergantung pada pengetahuan dan kondisi sosial penerima pesan. Dalam hal ini berarti berlaku tidak hanya penonton media, tetapi termasuk produsen baik pemilik media maupun jurnalis yang memproduksi konten media — karena mereka merupakan penerima ‘kode’ dari sebuah fenomena. Sehingga, konten media yang dibangun tentu tidak lepas dari interpretasi produsen media tersebut. Penikmat media, atau dalam konteks ini adalah masyarakat, mendecodekan pesan yang disampaikan oleh produsen media dengan tiga bentuk : menerima pandangan produsen, menegosiasikan maknanya, maupun menolak pandangan tersebut.

Hanya saja, perlu diingat bahwa media merupakan institusi yang besar dan dikuasai oleh pemilik-pemilik modal dengan kepentingan tertentu. Sehingga, konten yang disajikan oleh media cenderung mendukung kepentingan pemilik media, dan pembentukan konten dibuat seakan berempati pada semua pihak (ini yang dimaksud inferential racism barusan), sehingga turut menggiring opini publik pada penstereotipean ras-ras. Misalnya, majalah Tempo edisi 31 Agustus 2015 mengangkat headline mengenai kedatangan ribuan buruh dari China, seiring dengan berbagai proyek pembangunan di Indonesia. Dengan judul “Selamat Datang Buruh Cina” membuat banyak pihak menuding hal tersebut sebagai bentuk rasisme Tempo terhadap kelompok etnis Cina. Sebutan-sebutan yang meminggirkan etnis Cina seperti “non-pribumi” menunjukkan bahwa mereka distereotipekan oleh media sebagai “The Other”. Stereotipe yang dibentuk oleh media ini kemudian berkembang menjadi realita yang dipercaya oleh masyarakat hingga dewasa ini.

Peran ideologi sangat signifikan terhadap kehidupan sosial, oleh karena itu masyarakat perlu berhati-hari dalam membentuk mindset mereka, terutama yang dipengaruhi oleh media.Segala sesuatu yang nampaknya biasa saja dalam media, jika kita pikirkan lebih dalam ternyata memiliki makna terselubung didalamnya. Menerima mentah-mentah apa yang disajikan oleh media menurut saya bisa berujung pada pembodohan publik, karena itu konten media perlu untuk dikritisi. Penginterpretasian makna pesan yang didasarkan oleh pengalaman dan pengetahuan audiens seperti dalam model Hall menunjukkan bahwa manusia perlu untuk membangun pondasi kuat dari kedua hal tersebut, sehingga kita mampu melihat dari berbagai sisi. Mengkonsumsi media pun sebaiknya tidak dari satu sumber, melainkan dari berbagai sumber untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda.

Referensi :

Hall, Stuart. “The White of Their Eyes : Racist Ideologies and the Media.” In Dines & Humez, pp. 89-93.

http://www.remotivi.or.id/kabar/217/Rasisme-di-Media

http://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-81988.pdf

Advertisements

7 thoughts on “Rasisme dalam Media”

  1. Kalau dikaitkan dengan bahasan aku, interpretasi audiens (khalayak) sebagai penerima pesan, interpretasi dari produsen media, maupun institusi media sebagai pemilik modal, itu semua merupakan komponen-komponen kajian budaya dalam menganalisis media, Ken. Jadi kalau dari sisi institusi media nya sendiri yang dikuasai oleh pemilik modal, itu berkaitan dengan ekonomi politik media. Kalau interpretasi dari produsen media, itu berkaitan dengan analisis teks, dalam konteks apa teks media itu dibuat. Sedangkan interpretasi khalayak berkaitan dengan bagaimana khalayak membaca dan menginterpretasi media. Jadi cara agar lebih kritis menghadapi media ialah dengan melalui kajian budaya. Selengkapnya bisa dibaca di review Farisha hehehe.

    Like

  2. Seperti yang dikatan Hall ya ken.. Ada 2 bentuk dasar dari racism atau rasisme yakni overt racism dan inferential racism.
    Overt racism adalah tipikal rasisme yang bisa dirasakan dan diketahui secara langsung ketika kita membaca, melihat dan mendengarkan kata-katanya, Artinya bersifat jelas dan terbuka.
    Sedangkan Inferential racism, adalah yang bersifat tertutup, implisit yang bahkan beberapa orang mungkin melihat dan menilai nya sebagai bentuk yang tidak racist. Yang sebenernya banyak kita jumpai di Media saat ini, media mencoba untuk membentuk pola pikir publik bahwasannya sesuatu hal yg diberitakan adalah “make sense”.

    Terkait inferential racism, lantas kemudian sejauh mana sesuatu bisa dikatakan rasis dan tidak rasis ya ken? Karena seperti yang kita tahu setiap orang memiliki perspektif yg berbeda, rasis bagi A belum berarti rasis bagi B. Ataukah diukur dari efeknya? Atau bagaimana?
    Thank you ken..

    Like

  3. Terdapat empat poin yang aku garis bawahi. Yang pertama, berhubungan juga dengan bahan bacaan aku, Ideologi tercipta dari alam bawah sadar dan menciptakan kesadaran sosial. jika dihubungkan dengan kritik Althusser, kesadaran sosial yang terbentuk adalah sebuah kesadaran palsu dari ideologi dominan.
    Kedua, media mampu menciptakan ideologi yang juga mampu membuat definisi dan kategori mengenai ras serta permasalahannya. Inilah yang akhirnya mendorong munculnya stereotipe.
    Ketiga, media yang berperan sebagai pencipta ideologi adalah produk dari pemilik modal dengan kepentingan tertentu. Dengan kata lain, media menjadi alat untuk melanggengkan ideologi dominan dalam kesadaran palsu dengan seakan-akan berempati pada semua pihak, sehingga bisa menggiring opini publik pada penstereotipean ras-ras.
    Dan terakhir, peran ideologi dalam kehidupan sosial menjadi sangat signifikan sehingga diperlukan kehati-hatian dari masyarakat dalam membentuk pola pikir dan merepresentasikan apa yang disajikan oleh media.
    Yang menjadi pertanyaan kemudian apakah media penyiaran publik (misalnya bbc) tetap menjadi ‘kendaraan’ bagi ideologi dominan, atau justru dia merupakan alat perlawanan bagi ideologi subordinat?
    Terimakasih ilmunya mbak Ken..

    Like

  4. Ken, ini jujur mau tanya. Ini mengacu pada kalimat di atas yang berbunyi “Menurut Hall, media yang mampu menciptakan ideologi-ideologi ini juga mampu mendefinisikan ras-ras dan permasalahannya, sekaligus mengklasifikasikan ras tersebut ke dalam kategori-kategori dan menstereotipekannya. ” Dalam konteks Indonesia kita mengenal SARA kan ya, Suku Ras Agama dan Antar golongan, yang cakupannya lebih luas dari ‘hanya sekedar’ rasis. Apakah dalam konteks di luar Indonesia hal ini juga ada? Jadi terfikir juga, apakah pembahasan rasisme di media ini lahir karena datang dari daerah dimana perbedaan ras seringkali meruncing? Atau memang karena pembedaan rasisme ini sendiri memiliki posisi yang lebih dari pembedaan yang lain, misal pembedaan suku, pembedaan agama, atau lainnya. Karena seolah ras yang didefinisikan, baru permasalahan ras-ras tersebut. Atau malah pertanyaan ini ga relevan ya? XD XD Serius terpikir aja sih ini..

    Like

    1. Jujur juga mba Hani, akupun sempat memikirkan itu — dalam artikel ini Hall cuma membahas isu rasis. Padahal mestinya ada banyak sekali indikator-indikator lain selain ras, misalnya seperti yang mba Hani sebutkan tadi : agama, suku, kelas, bahkan gender juga tidak luput dari pengstereotipean oleh media. Kalau kurasa sih ada ya, terutama misalnya media luar memberitakan soal Agama Islam kan biasanya sedikit berlebihan seperti yang kita ketahui dan cenderung menyudutkan ga sih.. Kalau masalah suku-suku, biasanya ada beberapa film (kita contohkan saja The Revenant ya), disitu digambarkan kalau suku-suku primitif kesannya buas. Bukankah ini juga bentuk pengstereotipean? Mungkin, karena bahasan Hall kali ini mengenai Racist, dia lebih memperdalam kajian soal ras tersebut. 😀

      Like

  5. Review yang menurut saya menarik. Kita memang tidak boleh percaya begitu saja dengan apapun yang ditampilkan/disampaikan oleh media. Kita perlu mengkritisi setiap konten yang diproduksi oleh media. Hal ini menjadi penting buat kita, karena dengan belajar kritis atas konten media, berarti kita telah memahami dan menerapkan gate keeping process. Selanjutnya, setelah kita merasa telah mencapai level kritis atas tampilan media, maka sikap kritis ini bisa kita sampaikan dan tularkan ke orang-orang yang berada di sekitar kita, misalnya ke adik atau kakak atau saudara terdekat lainnya. Bila pola ini terus dilakukan, maka konsumen media akan semakin cerdas ketika menyikapi tayangan-tayangan media, sehingga pada akhirnya bisa membedakan mana tayangan yang baik atau tidak baik, serta mana tayangan yang bermanfaat atau tidak bermanfaat.
    #041, #SIK041

    Like

  6. Review yang menarik. Betapa pentingnya mewaspadai media karena media memiliki kemampuan untuk mengkonstruksikan realitas dan membentuk berbagai macam syereotipe dalam pikiran kita tanpa kita sadari. Jangan pernah ragu untuk mengkritisi media jika konstruksi realitas yang mereka lakukan sudah jauh mwnyimpang dengan realitas sebenarnya. Namun tentu pemikiran Stuart Hall juga masih memiliki celah sehingga melahirkan anti tesis yang kembali meneguhkan kajian-kajian cultural studies dari sisi paradigma lainnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s