Budaya konsumerisme : mengapa terjadi?

Budaya konsumerisme yang tengah terjadi saat ini ditengarai cukup mengkhawatirkan, dimana manusia begitu sibuk dengan urusan ‘mendulang’ dan ‘membelanjakan’ uang sehingga dikhawatirkan kita sebagai manusia lupa akan nilai-nilai yang bermanfaat serta menjalani hidup yang bahagia. Dikatakan dalam artikel “The New Politics Consumption” yang ditulis oleh Julia Schor, bahwa para kritikus sosial menentang pendistribusian sumber daya yang bisa mengancam keberlangsungan ekologi sebagai akibat dari tujuan yang sangat ekonomis : memperbesar  pendapatan maupun keuntungan orang-orang yang bekerja. Hal yang ditentang oleh para kritikus ini merupakan sebuah pandangan yang ditelurkan oleh para ekonomis yang radikal, dimana mereka sangat percaya bahwa kesejahteraan ditentukan dari pendapatan.

Mari kita tengok dulu kondisi di Amerika berdasarkan artikel ini. Jadi, di Amerika sendiri dewasa ini rata-rata merasa kesulitan untuk mencapai standar kepuasan hidup, dibandingkan dengan 25 tahun yang lalu. Coba lihat jam dan sistem kerja mereka yang membutuhkan hampir separuh hidupnya di kantor namun dengan tingkat sekuritas yang rendah serta tekanan dalam lingkungannya. Seorang ekonomis, David Gordon, mengatakan bahwa solusi dari situasi ini dengan cara mencukupi pendapatan setiap rumah tangga, yang diduga bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk. Hal ini ditentang oleh Schor, karena peningkatan pendapatan ini sendiri bisa memicu budaya konsumerisme yang mana merupakan permasalahan yang justru sedang dihadapi. Selain itu, pendapatan yang cukup itu hanyalah sebuah tujuan yang elusif – bagaimana tidak, ‘cukup’ itu relatif bagi setiap orang. Yang ketiga, mungkin saja 20 tahun lagi rata-rata pendapatan 100 juta rupiah merupakan sesuatu yang diterminasikan sebagai ‘cukup’.

Beralih dengan budaya konsumerisme di Indonesia. Adalah merupakan sebuah kewajaran jika setiap masyarakat mengalami masa transisi, termasuk di bidang ekonomi. Indonesia sebagai negara berkembang mengalami perubahan dari segi konsumerisme seiring dengan pembangunan dan modernisasi yang terjadi, terutama dengan hal-hal yang memanfaatkan teknologi Barat. Yang dimaksud dengan Barat disini adalah Amerika, Eropa Barat, Jepang, Korea Selatan dan sebagainya, yang memicu perubahan budaya dan pastinya membuat perubahan gaya hidup dan kebutuhan sehingga berimbas pada konsumsi masyarakat.

Di jaman orde baru, ketika di desa-desa tidak ada pesawat televisi maupun gedung bioskop dan sarana hiburan warga hanyalah mengobrol dan bermain dengan orang sekitar – yang mana persis dengan penggambaran situasi di Amerika era 60 hingga 70an di atas, masyarakat tidak memiliki kebutuhan-kebutuhan yang ‘aneh-aneh’. Namun, seiring dengan masuknya modernisasi ditandai dengan menjamurnya hiburan modern dari televisi dan bioskop yang membawa gaya hidup Barat, muncullah apa yang dianggap masyarakat sebagai standar kehidupan yang layak. Sehingga, kebutuhan akan mobil, gadget, rumah mewah, dan busana-busana tertentu menjadi meningkat dan menciptakan budaya konsumerisme. Gaya hidup konsumtif ini menjalar dengan cepat ke seluruh lapisan masyarakat, ketika orang-orang mulai berlomba membeli peralatan elektronik terbaru atau pakaian paling trendi, yang kini nilai gunanya sudah semakin bergeser dan justru nilai statusnya yang diperhatikan.

Konsumerisme sendiri di Indonesia lebih terasa di daerah perkotaan. Seperti yang dikemukakan oleh Wick (1985) dalam penelitiannya terhadap pengeluaran masyarakat Indonesia berikut : “Between 1960 and 1976 real expenditure per capita increased twice as rapidly in urban (40 percent) as in rural (20 percent) Java and faster in Jakarta (50 percent) than in any other city. Moreover, the increase of 40 percent in urban per capita expenditure was biased heavily toward the upper expenditure quintiles”. Honda, Toyota, Volvo, Apple menjelma menjadi simbol modernitas. Pengaruh iklan dan modernisasi juga turut dirasakan oleh para Ibu di perkotaan bahkan pedesaan, dimana banyak Ibu yang mulai memberikan bayinya susu formula ketimbang memberikannya ASI, seperti yang dikatakan oleh Nuradi (1977) : “Yang lebih buruk lagi terjadi pada kasus penyusuan bayi. Ibu-ibu di desa, karena melihat ibu-ibu di kota menyusukan anaknya dengan susu kaleng, mulai meniru kebiasaan itu. Celakanya, kemampuan ekonomi mereka menyebabkan susu kaleng yang sebenarnya hanya cukup untuk satu liter itu dipergunakan seminggu penuh”. Walaupun ada kecenderungan kembalinya peran ASI setelah adanya kampanye dari UNICEF di tahun 80an. Sehingga, nampaklah bahwa budaya konsumerisme yang terjadi di Indonesia merupakan sebuah efek dari perkembangan teknologi dan modernisasi yang muncul pula sebagai akibat dari pergeseran kebudayaan sebagai efek dari media.

Schor menggambarkan situasi yang tengah terjadi saat ini disebut sebagai The New Consumerism. The New Consumerism ini adalah upaya peningkatan gaya hidup, keinginan untuk tampil diakui, prestise terhadap sebuah barang dan perlombaan untuk memilikinya, serta keterputusan antara keinginan konsumen dengan pendapatan.  Tahun 50 sampai 60an di Amerika Serikat, sistem rumah bertipe serupa yang berdempet dan hubungan baik dengan tetangga membuat masyarakat hanya membandingkan diri mereka dengan tetangga sekitar, yang mana kurang lebih punya pendapatan dan gaya hidup yang tidak jauh berbeda sehingga keinginan untuk membeli sesuatu pun tidak begitu besar. Namun, ketika perempuan mulai memasuki dunia kerja dan melihat dunia diluar ia dan tetangganya, dan juga ditambah semakin merajalelanya media yang turut menstereotipekan standar kehidupan yang bahagia membuat budaya konsumerisme ini meningkat. Ditambah lagi, keberadaan kartu kredit yang semakin mempermudah masyarakat untuk membelanjakan uangnya demi memenuhi kebutuhan mereka menyebabkan masyarakat hampir kesulitan untuk menabung dibanding masa-masa dulu, karena kartu kredit ‘meminjamkan tabungan masa depan’ mereka untuk dinikmati di masa kini.

Dampak dari semua ini tentu lebih cenderung kepada mereka yang berada di kelas menengah. Kalangan kelas menengah berusaha agar bisa mencapai kesejahteraan hidup dengan berkaca pada kalangan kelas atas, dan tekanan ini memicu mereka untuk bekerja jauh lebih keras. Gap-gap tercipta sebagai akibat dari perubahan struktural – seperti penolakan oleh komunitas, intensifikasi ketidak adilan, pertumbuhan media massa, dan lain-lain. Sehingga, pertumbuhan budaya konsumerisme dewasa ini berkisar pada pendapatan, kekayaan dan kredit. Selain itu, budaya konsumerisme juga berkisar pada sesuatu yang lebih ‘semu’ : keputusan dan pilihan konsumen. Konsumsi menjelma menjadi sebuah kebiasaan di tengah masyarakat.

Pandangan konvensional mengatakan bahwa para konsumen bisa berpikir secara rasional, sudah terliterasi dengan baik perihal produk-produk yang ada di pasaran, preferensi mereka terhadap suatu produk merupakan sebuah konsistensi dari waktu ke waktu – terbebas dari preferensi orang lain, produksi dan konsumsi produk tidak memberikan efek ‘eksternal’ – perubahan tatanan harga pada produk lain misalnya, serta tersedianya pasar-pasar sebagai alternatif konsumsi yang lengkap dan juga kompetitif.

Perlu diketahui bahwa beberapa konsumen tidak sepenuhnya rasional, misalnya anak-anak. Anak-anak tidak punya kemampuan untuk memikirkan secara matang ‘apakah saya membutuhkan ini? Apakah harga produk ini pantas dan sesuai dengan kegunaannya?’ dan sebagainya. Kedua, cobalah kita tengok penjualan susu, misalnya. Apakah kita sebagai konsumen sudah mengetahui dengan pasti bagaimana proses susu tersebut dibuat, atau sekedar bagaimana yang ditampilkan oleh media saja? (Jangan coba mencari tahu kalau anda masih ingin rajin minum susu :p)

Di akhir tulisannya, Schor mengemukakan 7 poin dalam apa yang disebutnya sebagai Politics of Consumption, sebagai upaya penanganan masalah konsumerisme yang tengah terjadi ini.

  1. Hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak
  2. Pengutamaan kualitas hidup diatas kuantitas barang/kekayaan yang dimiliki
  3. Konsumsi yang menjaga keberlangsungan ekologi/ramah lingkungan
  4. Praktik konsumsi yang demokratis
  5. Politik retailing dan lingkungan kultural – toko retail yang mendukung kebutuhan setempat
  6. Mengekspos fetisisme komoditas
  7. Gerakan dari konsumen serta kebijakan pemerintah dalam upaya peningkatan kesejahteraan hidup dan penanganan masalah konsumerisme ini

Tentu saja ketujuh poin ini merupakan sebuah harapan akan kondisi yang ideal, sehingga perlu waktu dan effort yang keras agar ini bisa terwujud.

Referensi :

Heryanto, Januar. “Pergeseran Nilai dan Konsumerisme di Tengah Krisis Ekonomi di Indonesia”. In NIRMANA, Vol 6 : 1, pp. 52-62.

Schor, Juliet. “The New Politics of Consumption”. In Dines & Huez, pp.183-195.

Advertisements

7 thoughts on “Budaya konsumerisme : mengapa terjadi?”

  1. Ken.. seperti yang dikatakan diatas bahwasannya budaya konsumerisme meningkat ketika perempuan mulai memasuki dunia kerja dan melihat dunia luar yang juga ditambah dengan faktor merajalelanya media yang turut menstereotipekan standar kehidupan yang bahagia. Mengapa perempuan? Bukankah standard of living terbentuk sejak revolusi industri? Atau ada hubungan diantara keduanya? Thank you ken :))

    Source: http://www.econlib.org/library/Enc/IndustrialRevolutionandtheStandardofLiving.html

    Like

    1. kalau dalam artikel ini memang disebutkan perempuan, karena perempuan adalah sasaran paling tepat untuk dipersuasikan agar mau membeli suatu barang. Disini, sebenarnya entah bisa dibilang peng-underestimate-an perempuan atau bukan, tapi perempuan sendiri dipandang mengandalkan hasrat dan bukan logika dalam keputusan mengonsumsi sesuatu. Apalagi di Indonesia, yang pegang keuangan keluarga kan perempuan Za, yang artinya keputusan membeli biasanya ada di tangan perempuan, kan ya :)). Plus, standard of living yang dimaksud dalam artikel ini adalah stereotipe bentukan media dimulai tahun sekitar 1980an, harusnya sih konteks waktunya berbeda sama yang kamu maksud, itu 50an kan ya?

      Liked by 1 person

  2. aku setuju mbak Ken…
    Bahkan tidak hanya kelas menengah, beberapa kelas bawah pun cenderung menyesuaikan diri dengan kelas diatasnya.
    meskipun sekarang ada gerakan yg pejuang ASI eksklusif, tapi justru ini membuat ada pembeda antara ibu yang bisa memberikan ASI eksklusif atau yang formula.
    untuk pedesaan, toko retail pun merajalela. bahkan menurutku, jika melihat kondisi di kampungku, toko retail di pedesaan lebih banyak dibandingkan perkotaan dengan hanya dua macam saja (alf dan indo). dalam satu desa bisa saja terdapat 6-8 toko retail dengan jarak yang berdekatan.
    secara langsung atau tidak langsung ini mendorong budaya konsumen di masyarakat dan mematikan usaha kecil di sekitarnya.

    Like

  3. Ini aku nemu artikel yang menarik ken, bahwa laki-laki dan perempuan itu sama konsumtifnya, hanya beda style dalam perilaku konsumsinya saja. Secara frekuensi, memang perempuan lebih sering berbelanja hal yang diinginkannya, namun secara jumlah uang yang dikeluarkan, laki-laki bisa mengonsumsi lebih banyak daripada perempuan. (Artikelnya ada di alamat : http://female.kompas.com/read/2012/06/06/14362011/pria.dan.wanita.sama-sama.konsumtif)

    Intiinya, jelas pokonya lah ya ken. Uang sebesar apapun cukup kalau untuk memenuhi hidup kita, tapi ga cukup untuk memenuhi gaya hidup kita. Ah, mari sama-sama merenung kembali 😉

    Like

  4. perempuan adalah sasaran paling tepat untuk dipersuasikan agar mau membeli suatu barang. Disini, sebenarnya entah bisa dibilang peng-underestimate-an perempuan atau bukan, tapi perempuan sendiri dipandang mengandalkan hasrat dan bukan logika dalam keputusan mengonsumsi sesuatu.. haha menarik yah..ironis yah melihat bagaimana budaya konsumerisme “mendikte” kebudayaan bahkan mengubah kebudayaan (yang dicontohkan Pengaruh iklan dan modernisasi juga turut dirasakan oleh para Ibu di perkotaan bahkan pedesaan, dimana banyak Ibu yang mulai memberikan bayinya susu formula ketimbang memberikannya ASI). Tapi apa iya sih, perempuan hanya menikmati diri dengan melahap barang-barang komoditi. Itu berarti proses alienasi perempuan terhadap keberadaan dirinya sebagai “madrasah” atau sekolah utama dalam keluarga? – Soal kedudukan perempuan sebagai sekolah utama dalam keluarga semoga saya tidak terjebak dalam doxa ya..

    Namun yang pasti, dengan membaca pemikiran Juliet Schor dalam “The New Politics of Consumption” saya jadi paham bagaimana ekonomi politik mempengaruhi kebudayaan konsumerisme. Yang pastinya sih misalnya: di jaman saya saat SMA sepatu “eagle” sudah cukup bergengsi, tapi di jaman anak saya SMA ya “nike” persis seperti yang digambarkan Juliet Schor. Ironisnya anak saya bercerita banyak teman-temannya yang kurang mampu dapat membeli “nike” dari KJP. Sementara di sisi lain ortunya untuk membiayai makan saja susah. tragedi akibat budaya konsumerismekah?

    Like

  5. “Aku membeli, maka aku ada”, ungkapan ini sepertinya sangat cocok yah dalam menggambarkan budaya konsumerisme ini. Kalau memiliki motor gede, maka akan diterima dan dapat berkumpul dalam komunitas.Sama juga halnya dengan memakai barang-barang dengan merk ternama, maka akan dipandang berbeda dengan mereka yang tidak memakai barang-barang merk ternama. Intinya dalam dunia posmodern ini, nilai guna barang telah berubah menjadi nilai tanda. Semua simbol bermain, dan kita yang membeli simbol-simbol itu, sebenernya hanya menguntungkan para kapitalis saja. Hehehe. Tapi untuk lepas dari kesadaran palsu ini masih sulit untuk saya sendiri sih Ken.. Ada obatnya kah? wkwkw~

    Like

  6. Hidup pada era saat ini, memang tidak bisa dibandingkan dengan jaman dahulu. Standar kesejahteraan dan hidup bahagia pada jaman saat ini, tidak sama dengan standar di waktu lalu. Jangankan berdasarkan masa/waktu, standar kesejahteraan dan hidup bahagia antara Saya dan Anda tentunya berbeda. Ada pertanyaan untuk Mbak Ken, saran seperti apa yang bisa mbak tawarkan ke masyarakat, agar mereka/masyarakat tidak cenderung melihat ke ‘atas’ dan lupa melihat ke ‘bawah’? Artinya, agar semua masyarakat menyadari akan kemampuan finansialnya, sehingga nantinya tidak terjadi kasus kredit macet ataupun kasus terlilit hutang.
    #041, #SIK041

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s