Gender dan Konstruksi Media

Sex dan gender. Dua buah term yang nampaknya sama, namun berbeda. Apa sih yang berbeda? Bukankah dua-duanya digunakan untuk memisahkan, mengidentifikasikan laki-laki dan perempuan?

Sex, atau dalam bahasa Indonesia biasa kita sebut dengan jenis kelamin, mengidentifikasikan identitas “laki-laki” dan “perempuan” berdasarkan anatomi tubuh. Mereka yang (maaf) memiliki penis, menghasilkan sperma, tidak berpayudara, bertubuh muscular, memiliki kromosom Y, punya hormon testosteron, berkumis dan berjanggut dikategorikan sebagai laki-laki. Sedangkan mereka yang memiliki vagina, memiliki indung telur, berpayudara, bertubuh lekuk lembut, berkromosom X dan tidak memiliki kromosom Y, memiliki hormon estrogen dan mengalami haid dikategorikan sebagai perempuan. 

Sedangkan gender adalah tindakan yang secara sosial membentuk peran, perasaan dan kebiasaan yang dipantaskan untuk laki-laki dan perempuan. Secara implisit, artinya gender adalah definisi masyarakat mengenai tingkah laku laki-laki dan perempuan yang diekspektasikan .Gender Normative adalah kebiasaan yang konsisten dengan ekspektasi masyarakat. Gender non-conformity adalah kebiasaan yang menyimpang dari yang semestinya. Gender identity adalah bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan mengidentifikasikan gender mereka. Yang dimaksud dengan gender ini adalah diantaranya maskulin dan feminin, yang sesungguhnya dirumuskan dengan pola maskulin untuk laki-laki dan feminin untuk perempuan, namun bukan perumusan yang sifatnya absolut. Dengan kata lain, maskulin dan feminin bisa saja dimiliki oleh jenis kelamin yang berbeda, bahkan satu jenis kelamin bisa saja memiliki keduanya.

Pandangan masyarakat mengatakan bahwa ada hubungan alamiah antara sex dan gender. Hal ini terbukti bahkan dari ketika manusia baru lahir. “it’s a boy!” dan “it’s a girl!” akan membedakan warna kelambu atau bedong mereka. Kemudian, misalnya, bayi perempuan diharapkan akan tumbuh sebagai wanita, memiliki sifat feminin dan mengonsumsi barang-barang yang sifatnya girlie, seperti make up, tas tangan, sepatu stilleto, rok, dan lain-lain. Hal sebaliknya akan terjadi pada laki-laki juga. Tidak ada (yang dianggap) masyarakat normal yang mengharapkan bayi laki-laki kelak ketika dewasa akan mengatakan “Mama aku ingin menikahi pria ini!” sembari berpenampilan feminin dengan blouse dan rok, sepatu stilleto merah dan gincu yang mencolok.

Tetapi, benarkah gender itu sifatnya natural? Jawaban Judith Butler adalah tidak. Menurutnya, gender adalah penyesuaian berulang terhadap tubuh manusia, seperangkat tindakan yang berulang yang diatur ketat oleh hukum atau norma dari waktu ke waktu untuk menciptakan sebuah substansi. Artinya, dengan adanya penyesuaian berulang-ulang dari waktu ke waktu bahkan diatur ketat oleh hukum atau norma, maka gender merupakan sebuah hal yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Gender, menurut Judith Butler, adalah tindakan performatif. Manusia mengonstruksikan gendernya sembari berperilaku sesuai dengan “script” arahan masyarakat. Tetapi, secara realitas gender tersebut hanya terjadi manakala manusia sedang berperilaku seperti itu. Dan ketika manusia menolak memainkan peran dalam skrip itu maka akan terjadi penolakan sosial.

Konstruksi gender tentu tidak terjadi begitu saja, selalu ada sejarah yang melatar belakanginya. Dalam buku Butler yang berjudul Gender Trouble, dalam chapter 2  : Prohibition, Psychoanalysis and the Production of the Heterosexual Matrix dijelaskan mengenai hal tersebut.

Hal pertama yang diangkat oleh Butler adalah penjelasan antropologikal strukturalis dari Claude Levi Strauss, yang menerangkan perihal regulasi pertukaran  dimana ini mengkarakterisasikan seluruh sistem kekerabatan. Perempuan, diobjektifikasi sebagai alat tukar dalam sistem kelompok patrilineal melalui pernikahan demi perluasan kekuasaan. Kemunculan pentabuan perkawinan sedarah atau incest memunculkan dan sekaligus mengukuhkan kepantasan pertukaran perempuan untuk tindakan eksogami atau perkawinan antar suku. Sistem kekerabatan ini menolak endogami atau perkawinan internal suku, yang dipandang sebagai sebuah kesalahan dan terlarang serta pantas untuk dihukum. Kemudian, adanya pengasosiasian simbolis mengenai laki-laki dan perempuan, seperti misalnya pedang untuk merepresentasikan laki-laki dan cawan untuk perempuan. Pemberian simbol ini sudah menunjukkan posisi dari laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki dikonstruksikan memiliki power dan perempuan sebagai penadah power tersebut.

Dengan adanya simbol tersebut kemudian menekankan kodrat manusia sebagai makhluk yang heteroseksual, karena keduanya saling melengkapi. Jika dalam buku Butler ini, pendapat Jacque Lacan dikutip sebagai berikut : “to ‘be’ the Phallus is to be the ‘signifier’ of the desire of the other and to appear as this signifier.” (p.44). Laki-laki disimbolkan dengan Phallus, dan laki-laki dapat menjadi laki-laki dengan keberadaan perempuan, sebagai makhluk yang mewadahi power Phallus tersebut. Perempuanlah yang memvalidasi dan mengonfirmasi kelelakian para pria. Tanpa perempuan, laki-laki tidaklah utuh.

Jika dikaitkan dengan pengertian gender di atas, maka akan ada permasalahan untuk golongan homoseksual. Kaum homoseksual akan secara terpaksa mengikuti permainan masyarakat untuk menjaga penampilan mereka layaknya kaum heteroseksual, sebagai bentuk defense mereka karena homoseks dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Hal sama akan terjadi apabila perempuan ingin untuk tampil secara maskulin, mencoba mengadaptasi powerfullness dari laki-laki dan ingin mengadopsi simbol Phallus untuk dirinya sendiri.

Media merupakan sesuatu yang penting perannya dalam mengonstruksikan gender. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mengambil satu jenis media yang aktif mengonstruksikan gender yaitu majalah. Majalah pria dan wanita memiliki karakteristik serta konten yang berbeda. Majalah laki-laki kontennya lebih banyak berkisar pada otomotif, karir, dan seksualitas dengan penggambaran perempuan-perempuan seksi. Selain itu, majalah laki-laki juga didominasi dengan gambar laki-laki sixpack serta tips work out untuk membentuk tubuh yang kuat dengan warna-warna yang kelam dan gelap menunjukkan sisi maskulin itu sendiri. Laki-laki diasosiasikan kepada hal-hal yang berbau intelektual, erat kaitannya dengan teknologi, serta bentuk tubuh yang kuat dan memiliki gairah seksualitas dengan mengobjektifikasi perempuan. Sedangkan, majalah wanita umumnya berkisar seputar fashion, tips diet, make up, cerita pendek yang menggugah, tips mengenai hubungan rumah tangga, resep masakan dan sejenisnya semakin menunjukkan posisi perempuan pada ranah domestik dan mengotakkan preferensi perempuan terhadap komoditas yang feminin. Kedua jenis majalah ini menunjukkan kepantasan kedua jenis kelamin tersebut dalam berperilaku dan memilih preferensi mereka, dan sejak awal telah memisahkan laki-laki dan perempuan berdasarkan konsumsi media serta mengonstruksi gender yang harus mereka perankan.

Permasalahannya adalah, media tidak memberikan ruang kepada kelompok yang terkategorikan dalam gender non-conformity, dan menimbulkan kebingungan terhadap media mana yang mereka konsumsi. Karena, di satu sisi mereka memiliki preferensi berbeda namun secara bersamaan mereka memiliki kebutuhan untuk menjaga dirinya sesuai kodrat sebagai bentuk defensif. Hal ini dikarenakan media berusaha menormalisasikan masyarakat.

 

Referensi:

Butler, J. (2007). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. Routledge.

Buttler, J. (1988). Performative Acts and Gender Constitution (essay).

https://sophmoet.wordpress.com/2014/01/29/gender-trouble-prohibition-psychoanalysis-and-the-production-of-the-heterosexual-matrix/

Advertisements

5 thoughts on “Gender dan Konstruksi Media”

  1. Ada artikel menarik yang menceritakan tentang bagaimana seseorang yang tergolong dalam kategori yang oleh Butler disebut sebagai gender non – comformity yang seolah olah tidak memiliki tempat di masyarakat, di Indonesia dulu sebenarnya pernah memiliki tempat dan dinilai sah – sah saja, karena dianggap sebagai suatu budaya yakni: budaya Warok-Gemblak di Jawa Timur (monggo di search sendiri :D)
    Ada lagi hubungan raja-raja di Nusantara (termasuk di Aceh) yang mana raja-raja ini mempunyai relasi “intim” dengan anak muda laki-laki. 

    Jika kita berangkat dari fakta yang terjadi di Indonesia sekarang, sepertinya pola relasi gender san seksual yang sempit khususnya hubungan sejenis menurut penulis dari artikel tersebut merupakan pengaruh dari kolonial belanda. “penjajah” saat masa kolonial menilai bahwa relasi atau hubungan yang tidak jelas atau sejenis dinilai sebagai sesuatu yang “kotor”. Situasi itu jelas memberikan dampak pada negeri jajahannya, termasuk Indonesia. 

    Sumber : http://www.suarakita.org/2012/09/homoerotika-dalam-konsep-pederastia/

    Like

  2. Kembali ke bahasan beberapa pekan yang lalu, bagaimana media kemudian menjadi kunci dari konstruksi gender dan jenis kelamin. Media disini bukan hanya media massa. Keluarga, lingkungan, pendidikan formal, dan institusi masyarakat lainnya juga merupakan media. dan mereka membentuk konstruksi dan mengkotak kotakkan kriteria-kriteria yang kemudian dikatakan oleh Butler sebagai “Gender Binary”.
    Menurut Butler, “maskulin” dan “feminin”, “laki-laki” dan “perempuan” (yang dikatakan oleh Wittig hanya ada dalam matriks heteroseksual) merupakan naturalisasi untuk menjaga pola acuan tersembunyi dari kritik radikal.
    Perlu adanya dekonstruksi mengenai bagaimana gender dan jenis kelamin itu kemudian. Sehingga pada akhirnya tidak ada lagi faktor yang dapat menindas suatu kaum.

    Like

  3. Setuju sama Mbak Lail, keluarga dan lingkungan-lingkungan sejak kita lahir itu sendiri merupakan media. Bayi yang baru lahir, memiliki bentuk kelamin perempuan, akan diekspektasikan menjadi perempuan. Kalau melenceng, pasti banyak yang ribut. Kategori yang biner ini membuat mereka yang di tengah-tengah jadi gak ada ruang, terutama di media.

    Soal pendapatnya Lacan mengenai laki-laki ada (nyata) karena keberadaan perempuan (simbolik), Butler dalam hal ini menyerang Lacan, kenapa ada yang nyata dan ada yang tidak nyata? Laki-laki dan perempuan, keduanya nyata kok. Seakan-akan laki-laki belum menjadi laki-laki jika tidak ada perempuan yang mendampingi.

    Like

  4. Apakah dalam hal ini Butler juga menyebut bagaimana seseorang bisa menyimpang dari ekspektasi gendernya? Karena bagi sebagian orang, gender non-confirmity itu dikatakan sebagai suatu penyakit yang bisa disembuhkan hingga dalam konteks Butler sesuai dengan Gender normative nya.

    Lalu terkait dengan gender identity, apakah benar persepsiku kalau gender non-confirmity itu datangnya dari dunia luar, kalau gender identity datangnya dari diri kita sendiri, yang mana kedua hal tersebut bisa berbeda. Begitu bukan?

    Like

  5. Dalam review/pemaparan di atas, disebutkan bahwa manusia (laki-laki dan perempuan) terkonstruksi secara gender sejak lahir, setidaknya terlihat dari warna kelambu dan bedong yang dikenakan pada seorang bayi, dan seterusnya. Maaf, saya melihat Mbak Ken lewat tulisannya tersebut hanya terkesan mengkritisi, tetapi tidak memberi masukan/solusi. Dalam tulisan tersebut seharusnya disertai dengan solusi, agar pembaca semakin tercerahkan. Kembali untuk konteks konstruksi pada jenis kelamin, solusi apa yang Mbak tawarkan agar pemikiran pembedaan perlakuan pada bayi laki-laki dan pada bayi perempuan, seperti yang tersebut tulisan di atas, tidak terjadi lagi?; bila nanti Mbak Ken memiliki bayi, apakah akan melakukan konstruksi gender pada bayi Anda, sama seperti perlakuan masyarakat patriarki pada umumnya?
    #041, #SIK041

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s