Cyber Religion – On the Cutting Edge Between the Virtual and the Real (Review)

Cyber Religion, sebuah kata yang sesungguhnya pertama kali membacanya terdengar sangat asing bagi saya. Artikel tulisan Morten T. Hojsgaard ini sesungguhnya mengangkat sebuah fenomena yang agak sulit dipahami setidaknya bagi saya, karena kondisi fenomena yang dijabarkannya sedikit berbeda dengan yang terjadi di tanah air. Namun, pada review kali ini akan saya coba untuk membahas apa yang kira-kira ingin beliau sampaikan (karena itu mohon bantuan koreksi dan juga terbuka untuk diskusi ya, teman-teman! :D)

Dalam artikel Hojsgard, dikatakan menurut Brasher (2001:29) Cyber Religion mengacu kepada keberadaan organisasi keagamaan dan aktivitas keagamaan di dunia maya. Sedangkan menurut Dawson (2000:29), Cyber Religion merupakan organisasi keagamaan yang hanya eksis di dunia maya. Di kalimat yang lain, menurut Karaflogka (2002:284-285), Cyber Religion dipisahkan berdasarkan termnya: Religion on cyberspace dan Religion in cyberspace. Religion on cyberspace merupakan informasi yang diunggah oleh sebagian besar agama, rumah peribadatan, baik secara pribadi maupun organisasi yang dapat dirasakan juga di dunia nyata, sehingga internet digunakan sebagai penyaji informasi keagamaan. Sedangkan Religion in cyberspace merupakan agama yang terbentuk dan hanya eksis di dunia maya serta disadari sebagai terhadap realitas virtual, sehingga internet sebagai pembentuk atau alat kreatif dalam menciptakan sebuah konten dan aktifitas keagamaan.

Agama dalam cyberspace mungkin memiliki esensi atau eksistensi pada kehidupan manusia, dimana hal ini bertentangan dengan kajian sekuler yang mengungkapkan bahwa agama adalah konstruksi bentukan pikiran, tindakan dan organisasi manusia (Arnal, 2000:22). Sehingga, agama hadir dan termediasi di dunia maya justru karena adanya tindakan terlebih dahulu oleh manusia, termasuk diantaranya membuat interaksi komunikasi, program dan situs, dan sebagainya.

Menurut Hojsgaard ada 3 parameter yang dapat digunakan untuk menilai sejauh mana sebuah agama dapat dikarakterisasikan sebagai cyber religious, yaitu dari sisi Mediation, Content dan Organization.

Dari sisi mediation, prototipikal dari cyber religion sendiri berpangkal pada komunikasi virtual yang kemudian meluas menjadi komunikasi fisik. Sedangkan secara konten, cyber religion melakukan upaya yang berkesinambungan dalam menyajikan informasi alternatif dari dasar pemikiran organisasi keagamaan dan tradisi keagamaan, mengacu kepada ciri utama budaya cyber postmodern. Hal ini sedikit berbeda dengan agama tradisional yang justru cenderung skeptik terhadap apa yang mereka pandang sebagai pop-oriented, postmodern dan sekuler. Terakhir, dari sisi organization, cyber religion cenderung hanya sedikit terorganisir karena design mereka lebih fokus terhadap transmisi serta pengujian pemikiran dan gagasan dibandingkan mengeksplorasi institusi sakral, hierarki atau sakramen.

Di akhir tulisan, Hojsgaard mencoba mengambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Bukan internet yang membentuk agama-agama ini, melainkan manusia yang memanfaatkan internet tersebut. Namun, manusia-manusia inipun tidak terlepas dari pengaruh kemajuan teknologi yang merasuk pada kehidupan sosial, politik dan budaya mereka, sehingga cara kerja komunikasi dan kondisi yang terjadi di dunia maya secara tidak langsung turut memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pembentukan cyber religion.
  2. Prototipikal dari cyber religion dimediasi atau bertempat di dunia maya saja, dengan konten yang mengacu pada ciri utama budaya cyber postmodern, serta hanya sedikit terorganisir.
  3. Meskipun terdapat perbedaan dengan agama tradisional, namun ada kesamaan diantara keduanya yaitu pengikutnya yang sama-sama memunculkan pertanyaan mengenai kebenaran atau informasi ontologis dan metafisik yang setipe.
  4. Cyber religious dikarakterisasikan sebagai sebuah role playing, konstruksi identitas, kemampuan adaptasi budaya, pesona teknologi dan sebuah pendekatan sarkastik terhadap religiositas konformis. Cyber religious meningkatkan virtualisasi agama dan budaya, mengintesifikasikan interaksi pendekatan secara keilmuan, seni dan keagamaan, serta memperjuangkan antara sekuler dan anti sekuler.

Berkenaan dengan kondisi yang ada di Indonesia, dikarenakan di Indonesia sendiri hanya mengakui lima agama, secara tidak langsung agama yang ada diluar itu akan dianggap agama sesat dan akan ditindak lanjuti atau di banned (walaupun ada agama-agama tertentu diluar lima agama tersebut yang masih diakui, seperti konghucu misalnya). Hal ini menyebabkan persebaran cyber religion yang sifatnya benar-benar baru atau berbeda dengan ajaran utama di Indonesia rasanya tidak begitu banyak. Orang-orang akan lebih memanfaatkan situs-situs atau jejaring sosial untuk bertukar informasi perihal keagamaan. Walaupun begitu, beberapa situs keagamaan dan juga akun keagamaan di sejumlah jejaring sosial dewasa ini banyak yang mulai mengusung radikalisme, yang sesungguhnya dasarnya tetap pada koridor yang sama dengan agama tradisional, namun sifatnya radikal. Dan dalam hal ini, akun-akun dan situs agama mayoritas akan lebih banyak bermunculan di dunia maya dibanding yang lain, dan lebih berpotensi memiliki keragaman konten. Perlu diwaspadai pula informasi yang disajikan, karena di dunia maya kebenaran informasi menjadi sangat kabur, sehingga perlu kebijakan yang tinggi dari para pengguna untuk mengakses informasi, agar tidak selalu dari satu sumber untuk menghindari pemahaman yang salah.

 

Sumber :

Hojsgaard, Morten T. 2005. Cyber Religion : On the Cutting Edge Between the Virtual and the Real.

Advertisements

6 thoughts on “Cyber Religion – On the Cutting Edge Between the Virtual and the Real (Review)”

  1. Iya ken setuju, kalau menurutku contoh dalam konteks di Indonesia masih belum ada yang bisa dikategorikan sebagai religion in cyberspace, tapi kira-kira makna dari religion disini apa benar-benar makna yang sesungguhnya dari agama? Atau jangan-jangan perilaku kita yang sangat mengandalkan internet dalam hal apapun hingga memunculkan istilah googlism ini juga bisa dimaksudkan sebagai agama ya.. 😀
    By the way ini contoh-contoh agama di cyberspace, semoga bermanfaat..

    https://www.google.co.id/amp/s/amp.tirto.id/berkenalan-dengan-agama-agama-baru-nan-unik-bMwx

    https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://www.coimbra-group.eu/uploads/2016/2009%2520Markus%2520Davidsen-New%2520religions%2520in%2520cyberspace.pdf&ved=0ahUKEwjMmouT9avTAhXFsI8KHejhA8MQFghZMAk&usg=AFQjCNEPzh8N0zCYH8_zvU1YJU_kyznq3A&sig2=05KP2lPvT02i063eGN8Njg

    Like

    1. Kalau dalam artikel ini sih aku nangkepnya ada yang betul2 agama, ada yang disebut sekte-sekte atau ajaran-ajaran tertentu dalam sebuah agama yang tidak begitu kuat di dunia nyata sehingga mengambil dunia maya sebagai wadahnya za.. thank you anyway yaa link nya 😁

      Like

  2. membaca tulisan ini aku jadi teringat akan perkataan seseorang. dia berkata bahwa saat ini sebagian orang lebih cenderung berdoa melalui media sosial, bukan dihadapan Tuhannya dalam rumah ibadah. bahkan dalam kegiatan sehari-hari pun, misalnya makan, cenderung memfoto dan memposting foto sebelum makan, bukannya berdoa dulu sebelum makan.
    menurutku, ini memperlihatkan bagaimana dunia maya menjadi candu bagi sebagian orang dan dia “mendewakan” eksistensinya di dunia maya.

    Like

  3. Fenomena penyebaran cyber religion yang sifatnya benar-benar baru atau berbeda dengan ajaran utama agama, merupakan permasalahan serius dalam konteks agama. Potensi munculnya cyber religion ini selalu ada, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Dalam tulisannya, Mbak Ken menyebutkan bahwa fenomena cyber religion tidak begitu banyak di Indonesia, bisakah disebutkan apa contoh konkretnya?; Lalu, menurut Mbak Ken, bagaimana sebaiknya langkah Pemerintah Indonesia (khususnya Kementerian Agama dan KOMINFO) dalam memonitoring keberadaan dan penyebaran cyber religion tersebut?; terus untuk tanggapannya Mbak Ken sendiri atas fenomena cyber religion di Indonesia, seperti apa?
    #041, #SIK041

    Like

  4. tertarik mengenai cyber religious, Dalam pembahasan efek media bagi khalayaknya, ada yang dikenal sebagai efek bius. Efek bius ini biasanya ditujukan untuk mereka yang cenderung sudah merasa melakukan perubahan dengan aktif mengikuti berita mengenai perubahan, padahal dalam dunia real dia enggan untuk melakukan perubahan. Kalau dalam konteks religius juga barangkali efek media seperti itu pun relevan ya, pengunggah konten-konten religius dalam internet seolah sudah sesuai dengan apa yang diunggahnya, sehingga membuat dia lupa akan hal-hal yang tetap harus dilakukannya dalam dunia real. .

    Like

  5. bisa gak yah ketika di dunia maya seseorang tidak membawa nilai-nilai yang ada dari dunia nyata? kalau seperti sekarang ini,berarti dunia nyata dan maya menjadi gak ada bedanya dong. Terus kalau misalnya seorang ustad yang masuk ke grup whatsapp, berarti ustad tersebut sudah punya kapital simbolik kan yah sehingga apa yg dia post di grup whatsappnya bisa langsung diterima begitu saja. Berarti baik dari dunia maya maupun nyata menjadi tidak berbeda kan, sama-sama punya legitimasi berupa status sebagai ustad

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s