Kemajuan TIK dalam Media dan Keragaman

Setelah dalam artikel sebelumnya kita telah membahas “cyber-religion”, dimana intisarinya adalah penggambaran penggunaan internet sebagai wadah aspirasi masyarakat minoritas, maka dalam artikel kali ini kita akan mencoba untuk membahas mengenai etnis-etnis tertentu khususnya kaum termarjinalkan dan posisinya dalam media. Bicara mengenai media, tentu di era sekarang telah mengalami banyak kemajuan. Media yang erat kaitannya dengan komunikasi, dengan begitu pesatnya teknologi yang bermunculan mau tidak mau turut memengaruhi cara berkomunikasi kita. Teknologi Informasi dan Komunikasi atau TIK, begitu kita menyebutnya. Dalam teknologi ini jelas, tidak terlepas dari apa yang telah kita bahas sebelumnya yaitu internet.

Dalam artikel milik Isabelle Rigani dan Eugenie Saitta, dikatakan bahwa ada setidaknya tiga isu utama berkaitan dengan permasalahan TIK, yaitu :

  1. Hubungan ras, isu migrasi dan mobilitas. TIK dipandang sebagai mobilisator para imigran untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan informasi negara asal mereka.
  2. Jurnalisme dan media. Representasi imigran yang ditunjukkan dalam media mainstream maupun media khusus terbitan negara “penampung” imigran tersebut serta bagaimana mereka menyikapi pandangan itu sendiri merupakan sebuah permasalahan yang sekiranya baik untuk dikaji.
  3. Gerakan sosial. Menjadi penting mengambil tindakan mewadahi aspirasi imigran di public space, dan TIK dipandang sebagai sebuah bentuk terobosan baru dalam partisipasi sosial, politik, ekonomi dan lain-lain.

Kemunculan TIK memang dipandang sebagai sesuatu yang sifatnya “meringkas” hidup manusia menjadi lebih mudah. Bayangkan, jika kita ingin berhubungan dengan orang lain nun jauh disana kini tidak perlu mahal-mahal membeli tiket pesawat atau menanti kedatangan pos surat selama berminggu-minggu. Internet membereskan semua masalah komunikasi kita! Kita jadi bisa mengakses informasi atau sekedar melakukan live chatting, tanpa terbatas jarak dan waktu. Semuanya secara real time, dan jarak ribuan kilometer terpangkas menjadi sebatas jarak mata dan layar. Walaupun begitu, jangan mengira bahwa TIK telah menggantikan cara komunikasi konvensional, setidaknya untuk saat ini. Karena bagaimanapun juga sulit untuk menghapus apa yang telah menjadi tradisi, dan TIK bertindak sebagai sebuah komplementer saja. Contoh nyatanya, tetap ada undang-undang yang mengatur pemakaian TIK tersebut menunjukkan bahwa ia tidak berdiri sendiri, dunia maya tetap berkesinambungan dengan dunia nyata.

Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan teknologi mestinya menciptakan masyarakat yang multikultural dan multi etnik, dikarenakan kemudahan dalam transaksi informasi. Bayangkan, pertukaran budaya sudah tidak perlu lagi dilakukan secara face to face. Contohnya Amerikanisasi yang tengah terjadi, disusul dengan Korean Wave. Ini, kan, merupakan bentuk dari invasi budaya luar melalui media sebagai kemajuan teknologi. Tetapi, media dengan fungsinya sebagai agen penyebar ideologi, walaupun secara ideal mestinya menyajikan informasi multi etnik dan menjaga keragaman yang harmonis rupanya bisa menjadi bumerang. Media dengan ideologinya kebanyakan — demi menjaga keberlangsungan hidupnya sendiri– cenderung mengambil “unsur-unsur” yang dimiliki kaum mayoritas dan menjadikannya sebagai budaya populer, dan malah menjadikannya sebagai standar ideal, yang dikhawatirkan dapat berujung pada penciptaan masyarakat yang homogen. Yang dikesampingkan dalam hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah kaum minoritas.

Untuk lebih jelasnya, mari kita coba tengok salah satu kaum minoritas di Indonesia, yang secara sejarah sebenarnya sudah mendiami bumi Indonesia ini sejak tahun 1700an, dan sampai sekarang masih mendapatkan perlakuan tidak adil bahkan tidak diakui sebagai warga Indonesia : etnis Tionghoa. Saya sendiri, jujur saja, sampai sekarang masih bingung mengapa kelompok etnis ini di Indonesia mengalami perlakuan yang cukup berbeda dan cenderung “di exclude”, bahkan secara ekstrim kemudian dibenci oleh sebagian dari kaum mayoritas yang menamakan diri mereka sebagai pribumi. Sehingga, timbullah pertanyaan apakah semua ini memang karena sikap, sifat, maupun tindak tanduk etnis Tionghoa yang tidak menyenangkan, atau segelintir orang yang memarakkan kebencian ini — yang mungkin saja tidak lepas dari peranan media?

Prasangka negatif media yang dilekatkan kepada etnis Tionghoa sebagai kelompok minoritas di Indonesia rasanya sudah jadi rahasia umum, dan begitu banyak stigma negatif yang akan tampak disana. Misalnya saja, ketika ada sebuah kasus kekerasan terhadap pembantu oleh majikan, dimana pembantunya merupakan “pribumi” dan majikannya “cina”, maka secara gamblang etnis mereka disebutkan dalam artikel pemberitaan. Hal ini senada dengan kasus-kasus negatif lain, namun tidak terjadi dalam artikel yang sifatnya positif, misalnya Susi Susanti sebagai juara bulu tangkis (ia cenderung disebut anak bangsa instead of warga keturunan atau perempuan beretnis Tionghoa). Ini menunjukkan keberpihakan media dan jurnalis terhadap kaum mayoritas dan cenderung memarginalkan kaum minoritas. Selebihnya bisa coba diklik disini ^_^.

Hal ini pula yang terjadi pada kelompok imigran diluar sana, misalnya di Amerika. Kelompok imigran sebagai minoritas mengalami hal yang serupa sehingga memunculkan minat baru pada media minoritas, atau yang dikenal sebagai ethnic media. Media ini menyasar kelompok minoritas dan bersifat mewadahi mereka, suara-suara yang tidak terdengar di public sphere. Kepopuleran ethnic media di kalangan kaum minoritas dipandang oleh media mainstream sebagai sebuah celah yang menurut mereka dapat mereka isi juga, sehingga media mainstream pun mulai memasukkan perwakilan etnis minoritas sebagai staf mereka, termasuk untuk mengatasi masalah penampakan kelompok minoritas di media dari sisi kuantitas dan kualitas — sesuai dengan ideal fungsi media yang mestinya netral dan mencakup seluruh kalangan baik dari sisi konten media maupun pihak yang terlibat dalam pengoperasian media. Pertanyaannya adalah, apakah dengan melakukan hal tersebut maka media mainstream sudah dapat dianggap mewakili suara minoritas? Apakah jurnalis dengan etnis minoritas akan betul-betul berpihak pada etnisnya sendiri dalam menulis sebuah berita, atau masih dibawah tekanan penguasa media mainstream itu sendiri, yang pada akhirnya tidak betul-betul mewakili kelompok minoritas?

 

Referensi

Larrazet, Christine, and Isabelle Rigoni. A CENTURY-LONG PERSPECTIVE ON AN ENLARGED AND INTERNATIONALIZED FIELD OF RESEARCH. InMedia, 2014.

Rigoni, Isabelle, and Eugenie Saitta eds. MEDIATING CULTURAL DIVERSITY IN A GLOBALISED PUBLIC SPACE. Basingstoke : Palgrave Macmillan, 2012.

 

Advertisements

6 thoughts on “Kemajuan TIK dalam Media dan Keragaman”

  1. “Sehingga, timbullah pertanyaan apakah semua ini memang karena sikap, sifat, maupun tindak tanduk etnis Tionghoa yang tidak menyenangkan, atau segelintir orang yang memarakkan kebencian ini — yang mungkin saja tidak lepas dari peranan media?”

    Hal yang paling mungkin, karena mereka terlihat berbeda dari kebanyakan. Ya berbeda secara fisik, kebiasaan, kepercayaan, dll. Adapun sifat dan tindakan yang tidak menyenangkan rasanya itu hanya streotype ya. Bahkan kaum yang mayoritas sekalipun juga mesti miliki oknum yang tidak menyenangkan kan ya? Hanya betul, streotype itu yang kemudian dilanggengkan dari masa ke masa, salah satunya melalui media..

    Like

  2. jika mengacu pada pembahasan sebelumnya dan pembahasan saat ini, adanya internet membuat setiap orang kemudian bisa menjadi apa yang tidak mereka lakukan di offline. misalnya, mereka bisa menjadi motivator dengan pendapat dan suara mereka di media online berupa ‘quotes’ atau kata-kata yang menurut orang lain berarti. dengan mengundang beribu-ribu follower yang sebenarnya belum tentu dikenalnya. namun usaha ini kemudian menjadi pertanyaan pula. apakah benar mereka mewakili suatu kelompok?
    karena jika melihat beberapa kasus, perlawanan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang termarjinalkan dengan mengubah stigma yang ada menjadi stigma baru pada akhirnya hanya menciptakan identitas kolektif alternatif yang tetap mengambil beberapa nilai dari stigma yang sudah ada.

    Like

  3. Ada tiga isu utama menarik yang ditawarkan untuk dikaji terkait TIK, yaitu : Pertama, Hubungan ras, isu migrasi dan mobilitas. TIK dipandang sebagai mobilisator para imigran untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan informasi negara asal mereka. Kedua, TIK mewujudkan representasi imigran yang ditunjukkan dalam media mainstream maupun media khusus terbitan negara “penampung” imigran tersebut serta bagaimana mereka menyikapi pandangan itu sendiri merupakan sebuah permasalahan yang sekiranya baik untuk dikaji. Ketiga, TIK dipandang sebagai sebuah bentuk terobosan baru dalam partisipasi sosial, politik, ekonomi dan lain-lain untuk melakukan gerakan sosial. Namun di sisi lain kemajuan TIK memungkinkan berbagai manipulasi menyebabkan tantangan lain dalam melakukan penelilitan.

    Like

  4. Menurut pemikirannya A. David Gordon dalam buku berjudul Controversies In Media Ethics, bahwa kreativitas dan individual autonomy para praktisi media yang bekerja di bagian news room akan terbatasi dan terdegradasi, jika kondisi kerja mereka berada di bawah intervensi dan aturan yang mengikat dari top management. Mereka akan terkesan manut dengan peraturan perusahaan, kalau mereka melawan konglomerat media, mungkin terkena sanksi yang bisa berujung pada pemecatan. Gordon juga menambahkan bahwa kekuatan-kekuatan sosial, ekonomi/pemodal media dan juga kekuatan politik di sekitar media, sebagai penentu keputusan-keputusan etis yang diambil oleh setiap praktisi media, atau dalam arti lain, aspek eksternal jauh lebih mempengaruhi sikap pekerja daripada nilai yang mereka yakini. Kalau menurut mbak Ken sendiri, bagaimana peluang terciptanya idealisme bekerja bagi jurnalis dari etnis minoritas?
    #041, #SIK041

    Like

  5. saya sendiri sebenarnya juga heran mengapa sampai sekarang Tionghoa dipermasalahkan, apalagi kalau ada yang menyebutkan Tionghoa bukan pribumi. Sebenarnya pribumi yang asli itu seperti apa sih? Orang kita semuanya kan udah campur, semuanya pendatang. Istilah pribumi-non pribumi itu digunakan pada zaman penjajahan Belanda. Kalau Tionghoa sebagai minoritas, saya yakin itu hanya dari segi jumlah saja kok. Kalau dikaitkan dengan review bacaan keni, TIK ini merupakanwadah bagi kelompok minoritas untuk menyuarakan aspirasinya. Namun, kita sendiri juga harus melihat lebih dalam, apakah TIK yang sudah ada ini benar-benar mewakili aspirasi dari minoritas?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s