Review : On Media Memory – Introduction

Memori media merupakan sebuah kajian turunan dari penelitian media yang multidisiplin dan interdisiplin. Memori media berkonsep teoritis sekaligus analitis, dengan sifatnya yang kompleks. Kajian ini memiliki kegunaan diantaranya yaitu dapat mempelajari fungsi media sebagai memory agents, dimana kita dapat melihat pengemasan peristiwa masa lalu dalam berbagai versi media serta pembagian kerja media lokal, global, komersil dan non-komersil; dapat mengamati budaya yang terjadi, misalnya memori media sebagai indikator perubahan sosial dan politik; serta dapat melihat keterkaitan antara aktivitas sosial di media dan di dunia nyata. Dengan kata lain, dengan menghubungkan antara media dan memori kita dapat mengeksplor banyak hal dengan menggunakan temuan dan sudut pandang dari berbagai tempat, dan menyelidiki pengoperasian media melalui apa yang disebut memori kolektif.

Memori kolektif sendiri merupakan sebuah konsep yang elusif, sulit didefinisikan karena sifatnya yang secara teoritis masih sangat abstrak. Menurut Halbwachs (p.3), kelompok sosial mengonstruksi gambaran atau persepsi mereka sendiri mengenai dunia dengan membentuk atau mendaur ulang versi yang telah ada. Konsep memori keloktif adalah dimana setiap kelompok sosial tersebut membangun memori mengenai peristiwa masa lalu, dan memori tersebut menekankan pada keunikan peristiwa tersebut serta memberikan izin untuk mempertahankan gambaran itu dan kemudian diteruskan ke generasi selanjutnya.

Memori manusia pada dasarnya tidak pernah murni individual, namun sudah melalui proses kolektif/sosial. Dalam hal ini misalnya, secara sederhana saja adalah bagaimana kita menginterpretasikan sebuah simbol lingkaran merah dengan garis strip putih ditengahnya sebagai tanda ‘dilarang masuk’. Atau semakin sederhana lagi, bagaimana kita menyetujui sebuah konsep wadah penampung air berbentuk tabung tanpa tutup sebagai gelas. Semua itu adalah gambaran, yang mana bukan merupakan hasil interpretasi pribadi melainkan adalah pengetahuan yang diturunkan oleh orang atau kelompok yang telah memiliki memori tersebut sebelumnya, dan meneruskannya kepada kita saat memori kita masih putih bersih.

Pemaknaan simbol-simbol ini juga tidak dilakukan dengan sembarangan. Ada kepentingan-kepentingan kolektif yang diselipkan dalam proses pemaknaannya, sehingga makna simbol bahkan hingga persepsi peristiwa masa lalu dibentuk oleh kelompok sosial dengan tujuan tertentu yang sifatnya berguna secara sosial. Misalnya, untuk mempertahankan kedaulatan, mencegah pemberontakan, mewariskan nilai-nilai kehidupan, membuat perubahan sosial dan lain-lain. Memori ini merupakan serangkaian proses reka ulang — atau bisa juga disebut sebagai remake (pembuatan ulang) — dari peristiwa masa lalu untuk dijadikan dasar peristiwa masa kini, dan digunakan sebagai pijakan harapan masa depan yang lebih baik.

Memori kolektif merupakan sesuatu yang sifatnya kompleks. Dan untuk menyederhanakannya, berikut adalah 5 karakteristik dari memori kolektif tersebut :

1.Memori kolektif sebagai hasil bentukan sosial-politik

Memori didefinisikan dan dinegosisasikan melalui agenda dan kondisi perubahan kekuatan sosial politik. Memori tidak bisa digunakan sebagai evidence.  karena ia bukanlah rekaman asli sejarah, melainkan — seperti yang telah disebutkan di atas– sebuah reka ulang atas sejarah tersebut yang dipengaruhi oleh persepsi kelompok tertentu. Jika dipikirkan kembali, maka memori sejarah sesungguhnya merupakan sesuatu yang mungkin saja tidak benar sepenuhnya, atau ada bagian-bagian tertentu yang disembunyikan atas keinginan kelompok yang berkuasa atau berpengaruh besar terhadap persepsi khalayak, atau yang kita kenal sebagai pandangan dominan.

2.Pembentukan memori kolektif melalui serangkaian proses yang kontinyu dan multi dimensi

Memori dibentuk secara bersama-sama dengan berkaca pada baik masa lalu maupun masa kini, dan saling mempengaruhi persepsi terhadap kedua masa itu satu sama lain. Bagaimana kita memandang masa lalu merupakan pengaruh dari masa kini, dan bagaimana kita menjalani masa kini merupakan hasil dari pengaruh pandangan terhadap masa lalu itu sendiri. Pembentukan memori kolektif sifatnya tidak linier, melainkan dinamis dan kontingen. (Zelizer, dalam on Media Memory, 1995 : 221).

3.Memori kolektif bersifat fungsional

Memori kolektif dapat menjelaskan serta memetakan batas-batas yang membedakan sebuah kelompok melalui memori masa lalunya, dan menegaskan kembali keyakinan serta internal hierarchy kelompok tersebut. (Sturken, dalam on Media Memory, 1997 dan Zerubavel, dalam on Media Memory, 1995).

4.Memori kolektif harus dikonkretkan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa memori kolektif adalah konsep teoritis yang berbentuk abstrak. Sehingga, agar memori kolektif ini fungsional, maka diperlukan adanya tindakan mengubah konsep teoritis tersebut menjadi bentuk yang konkret dan dimaterialisasi melalui bentuk-bentuk fisik maupun artefak kebudayaan. Misalnya, upacara/ritual peringatan, monumen dan tugu, museum sejarah, sistem pendidikan, internet dan juga media.

5.Memori kolektif bersifat narasional.

Memori ini disusun seperti sebuah narasi, dilengkapi dengan apa yang bisa dipelajari serta diambil pesan moralnya untuk menciptakan generasi selanjutnya yang lebih baik.

Ketika media memiliki peranan yang cukup besar dalam membingkai sebuah peristiwa, maka itu artinya media juga punya peran penting dalam pembentukan persepsi masyarakat terhadap berbagai macam hal. Walaupun pesan dalam media dapat dinegosiasikan maknanya — dan memang benar bahwa efek media tidak pernah berdiri sendiri, namun fungsi media yang diyakini sebagai alat menggambarkan realitas memberikan masyarakat rasa kepercayaan yang tinggi terhadap apa yang disajikan oleh media. Tidak terlepas dari logika kapitalisme, bahwa mediapun bergerak dengan sistem hierarki dan mengutamakan keberlangsungan pengoperasiannya. Pandangan dominan yang digunakan dalam pembingkaian peristiwa, dalam hal ini tentu saja penguasa media sebagai kelompok dominan yang dimaksud, telah digunakan sebagai sudut pandang utama pembangunan memori masyarakat. Lagi-lagi, sudah bisa ditebak siapa yang terpinggirkan dalam hal ini, yaitu kelompok minoritas.

Tidaklah mengherankan apabila stigma negatif terhadap kelompok-kelompok minoritas telah melekat dalam memori kita semua. Stigma tersebut telah menjadi apa yang kita sebut di atas sebagai memori kolektif, yang bangkit dari pemahaman hasil penyetiran kelompok dominan melalui media. Masyarakat miskin misalnya, selalu digambarkan sebagai pihak yang lemah. Atau seperti yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya, penggambaran etnis Tionghoa dalam media yang sedemikian rupa terutama pada masa Orde Baru dan pasca 1998, memunculkan sikap anti-Cina.

Isu tersebut dengan mudah dibangkitkan kembali hanya dengan sentilan-sentilan kecil dalam pemberitaan di media dewasa ini, menunjukkan “luka lama” tidak pernah lenyap. Begitu lekatnya stigma yang terbentuk dalam memori kolektif, sehingga sedikit panas bisa menyalakan bara api yang kini nampaknya berkobar semakin besar dan merembet ke ranah lain. Oleh karenanya, masyarakat mestilah cukup cerdas untuk mengonsumsi media, internet, bahkan ucapan orang lain dan berhati-hati agar tidak saling merugikan satu sama lain.

Referensi :

On Media Memory, Introduction. Dalam On Media Memory : Collective Memory in a New Media Age. 2011.

Advertisements

4 thoughts on “Review : On Media Memory – Introduction”

  1. ‘Kok teoritis atau konseptual banget! Maaf, akan tetapi hal inilah yang saya rasakan ketika membaca artikel di atas, terlihat sedikit sekali penjabaran contohnya. Tolong dong mbak Ken dapat memberikan beberapa contoh konkret yang pernah dilakukannya dalam kehidupannya sehari-hari, yang mana contohnya terkait dengan konteks memori media dan memori kolektif, agar saya ataupun orang lain yang membaca tulisannya mbak tersebut, bisa langsung mudah memahami maksudnya terus mengaplikasikan, serta agar tulisannya tersebut dapat mencerahkan pula bagi siapapun yang membacanya.
    #041, #SIK041

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s