Mereka hanya perlu penerimaan…

Kira-kira seminggu ini saya mencoba mengamati salah satu kelompok yang digolongkan ke dalam kelompok minoritas, dan sepertinya cukup sering disinggung dalam tulisan-tulisan saya disini : kelompok LGBT. Setelah melewati banyak penolakan, terpaksa menelan kekecewaan karena saya berharap sekali bisa bertemu dan berbincang dengan mereka secara langsung, tetapi apa daya. Banyak yang menolak bertemu, karena tahu saya sedang penelitian. Mereka cenderung menutup diri, tidak ingin berbagi, tidak ingin orang lain tahu bahwa mereka ‘berbeda’…

Sebegitu dahsyatnya pengaruh stereotipe masyarakat terhadap kaum LGBT, hingga mereka mati-matian menyembunyikan identitasnya. Apalagi kemarin saya mendapatkan jarkom perihal penggerebekan “pesta gay” di bilangan Kelapa Gading pada grup Whatsapp keluarga, yang langsung banjir komentar dari istighfar sampai cemooh-cemoohan. Menurut saya berita ini tidak penting-penting amat sampai harus di blow up berkali-kali, digoreng terus menerus hingga posisi kelompok LGBT semakin tergerus. Tetapi yah, memang begitulah media arus utama. Keutamaan merekalah menjaga keberlangsungan nilai-nilai dominan yang ada, sehingga kelompok marjinal dilibas dengan pemberitaan-pemberitaan yang sesungguhnya tidak lebih penting daripada korupsi yang terus merajalela, atau ketidak adilan hukum terhadap kelompok minoritas yang tengah terjadi di masyarakat.

Bukannya saya membenarkan tindakan homoseksual dan sejenisnya, dan mendorong anda untuk melakukan hal serupa mengingat katanya saja perbandingan laki-laki dan perempuan sudah satu banding tiga. Bukan, bukan seperti itu. Hanya saja, stigma terhadap kelompok LGBT yang dibangun oleh hegemoni, dominasi kapitalisme sebagai pemilik media sudah terlalu menyudutkan kelompok LGBT, yang saya sendiri baru sadari belakangan ini. Bukan hanya kita yang ‘normal’ menuding mereka dengan stereotipe negatif, mereka pun mengetahui hal tersebut sehingga cenderung takut terhadap kita. Padahal, mereka hanya membutuhkan penerimaan, kebebasan yang sama seperti kita di masyarakat.

Sesungguhnya, kemunculan media baru seperti Internet merupakan jalan keluar bagi kelompok termarjinalkan, khususnya LGBT untuk bersuara. Ketika media arus utama tidak dapat mewadahi aspirasi mereka, malahan cenderung mendiskreditkan kelompok LGBT, media baru bisa dimanfaatkan sebagai alternatif. Media alternatif didefinisikan sebagai media non-komersial yang merepresentasikan kepentingan golongan di luar arus utama, salah satunya adalah golongan LGBT ini. Media alternatif sering pula didefinisikan anti-hegemoni, yaitu melawan berbagai nilai dan kepercayaan yang dominan dalam suatu budaya. Media alternatif seringkali berupa media non-profit, sehingga isinya jauh lebih gamblang dan jujur

Ada beberapa situs yang mewadahi kebutuhan dan aktivitas LGBT, salah satunya adalah situs http://aruspelangi.org/ . Situs ini mengorganisir kebutuhan-kebutuhan, berita yang bersangkut paut dengan LGBT serta pelatihan-pelatihan yang dikhususkan kepada kelompok LGBT agar dapat berdaya di masyarakat. Menurut Habermas, internet menyediakan ruang publik alterbatif untuk berdemokrasi, dimana setiap orang bisa mengemukakan pendapat masing-masing dengan bebas. Walaupun begitu, dalam forum kelompok minoritas yang terlalu besarpun selalu ada hegemoni, sehingga bukan tidak mungkin tetap saja ada suara yang terpinggirkan.

Saya cukup kesulitan menemukan narasumber yang ‘L’, dibanding yang ‘G’. Rupanya, kelompok ‘L’ jauh lebih tertutup dibanding ‘G’, dan saya menduga ini sebagai akibat label minoritas berlapis yang disandang kelompok tersebut membuatnya semakin menutup diri. Perempuan saja sudah cukup termarjinalkan, dan ditambah dengan LGBT tersebut. Ketika saya mencoba bermain-main di beberapa situs khusus LGBT, dan nampaknya lelaki jauh lebih vokal, sehingga public sphere tadi mesti dipersempit lagi menjadi spherical.

Penelitian terhadap kelompok minoritas beberapa diantaranya memang sulit dengan interaksi langsung, sebagai akibat dari penutupan diri tersebut. Namun, bukan berarti mereka selamanya melakukan self-denial terhadap diri mereka, atau bermain kucing-kucingan dengan lingkungannya. Bagaimanapun, mereka butuh aktualisasi diri dan bersosialisasi, sehingga mereka cenderung memanfaatkan media alternatif entah untuk mencari informasi saja atau menggunakannya hingga untuk mencurahkan isi hatinya. Seorang narasumber saya memiliki karakter yang kuat, yang saya saluti bahwa ia meskipun sadar dirinya berbeda, ia belajar menghargai dirinya sendiri sebagai seorang manusia. Meskipun cukup terbuka, nyatanya ia tetap harus memilih kepada siapa ia mencurahkan isi hatinya, sehingga portal blog menjadi alternatif baginya untuk menuang cerita. Dari platform-platform itulah kita bisa meneliti kehidupan mereka, mencoba memahami perasaan dan menerima keberadaan mereka sebagai bagian dari masyarakat.

 

Referensi :

Atton, Chris. 2002. Alternative Media. London : SAGE Publication.

Advertisements

5 thoughts on “Mereka hanya perlu penerimaan…”

  1. Jadi ingat cerita observasiku kemarin tentang single parent. Mereka juga punya grup grup whatsapp dan website khusus single parent, yang dibuat dengan harapan bisa memberdayakan anggota-anggota di dalamnya, dan juga mengedukasi masyarakat mengenai kehidupan mereka yang sebenarnya. Dengan demikian diharapkan stigma-stigma negatif pada mereka, dan anak-anak mereka bisa memudar perlahan..

    Like

  2. Statement mu yang mengatakan ” bahwa cukup kesulitan menemukan narasumber yang ‘L’, dibanding yang ‘G’ dan kelompok ‘L’ jauh lebih tertutup dibanding ‘G’, dan saya menduga ini sebagai akibat label minoritas berlapis yang disandang kelompok tersebut membuatnya semakin menutup diri. Perempuan saja sudah cukup termarjinalkan, dan ditambah dengan LGBT tersebut. ” Benar-benar seperti dugaan ku ken, selain karena lesbian bisa dibilang menjadi minoritas berganda, mereka dalam lingkup publik juga lebih invisible artinya tidak kentara jelas statusnya, berbeda dengan laki-laki yang sangat tampak jika dibandingkan dengan kelompok lesbian. Jadi lebih mudah ditemukan dan dijadikan narasumber

    Like

  3. Memang agak susah sih ya kalau dalam konteks masyarakat kita untuk bisa menerima perbedaan orientasi seksual. Jangankan orientasi seksual, menerima perbedaan agama dan etnis saja masih susah. Kemarin saya juga selama satu minggu mengobservasi kelompok minoritas, yaitu Etnis Tionghoa, dan secara sengaja maupun tidak sengaja saya juga masih memiliki stereotype-stereotype terhadap Etnis Tionghoa. Namun dengan melakukan pendekatan etnografi, akhirnya saya menjadi belajar dan berusaha mengubah diri sendiri bahwa kita jangan hanya melihat dari luarnya saja. Intinya kita mulai melakukan penerimaan terhadap minoritas mulai dari diri kita sendiri ^^

    Like

  4. Aneh!, hal ini yang saya tangkap dari tulisannya mbak Ken. Pada satu sisi, mbak terlihat membela kelompok LGBT, melalui pernyataan: ‘sebegitu dahsyatnya pengaruh stereotipe masyarakat terhadap kaum LGBT, hingga mereka mati-matian menyembunyikan identitasnya.’ Akan tetapi, pada penggalan tulisan yang lain mbak terkesan menolak dan tidak mengakui keberadaan dari kelompok LGBT tersebut, melalui pernyataan: ‘bukannya saya membenarkan tindakan homoseksual dan sejenisnya, dan mendorong anda untuk melakukan hal serupa mengingat katanya saja perbandingan laki-laki dan perempuan sudah satu banding tiga. Bukan, bukan seperti itu.’ Seharusnya sebagai pembelajar isu-isu minoritas, mbak Ken memiliki kepedulian, keberpihakan dan penerimaan atas mereka, dan tidak bersikap setengah-setengah atas keberadaan kaum minoritas. Bagaimana tanggapannya, mbak?
    #041, #SIK041

    Like

    1. Ini dia mas, yang jadi poin utamaku selama meneliti sebenarnya. Ketika aku menyadari, bahwa selama ini aku memang tidak, belum benar-benar menerima. Hal itu aku sadari ketika aku memikirkan, bagaimana jika ini terjadi pada anak-anakku.. dan ga sedikitpun aku ingin hal itu terjadi. Ironis memang, ya. Semua yang aku tulis pada kenyataannya masih teori belaka. Tapi, disinilah proses pembelajaran terhadap penerimaan itu, menurutku. Disamping itu, terkadang apa yang salah tidak bisa dibenarkan atas dasar penerimaan. Terkadang, penerimaanlah yang dibutuhkan untuk meluruskan sebuah kesalahan. Ingat cerita psk yang disuruh main resik itu? Kira-kira seperti itulah mas. Hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s